JAKARTA, BERNAS.ID – Fenomena Dunning-Kruger Effect semakin relevan di era digital, terutama dalam investasi dan literasi keuangan. Efek ini terjadi ketika individu dengan sedikit pengetahuan merasa lebih kompeten daripada yang sebenarnya, sementara yang lebih berpengetahuan justru meragukan kemampuan mereka.
Cooky T. Adhikara, Founder dan CEO CERVO ID, menjelaskan bahwa efek ini telah menyebabkan kerugian triliunan rupiah, tetapi sering kali diabaikan.
Media sosial sering kali menciptakan ilusi pengetahuan, di mana orang yang minim pemahaman merasa lebih ahli. Studi Lin & Kim (2024) menunjukkan bahwa individu dengan literasi politik rendah justru terlalu percaya diri dalam pemahamannya.
Baca Juga : Cooky T. Adhikara: Pengusaha Indonesia Harus Terapkan Prinsip Ray Dalio untuk Hadapi Ekonomi Global
Fenomena ini juga tampak dalam diskusi vaksin COVID-19 di LinkedIn, di mana individu yang kurang memahami topik cenderung menyebarkan informasi dengan keyakinan tinggi. Efek ini memperparah polarisasi dan meningkatkan risiko manipulasi informasi.
Dalam investasi, Dunning-Kruger Effect dapat memicu FOMO (Fear of Missing Out), di mana individu terjebak dalam keputusan irasional akibat informasi yang salah. Maraknya iklan investasi di TikTok dan Instagram meningkatkan kasus penipuan finansial. Data OJK dan Bareskrim Polri mencatat kerugian dari investasi ilegal mencapai Rp1,75 triliun dari kripto dan Rp420 miliar dari saham bodong hingga 2023.
“Banyak orang merasa sudah cukup paham soal investasi hanya karena sering melihat konten di media sosial. Padahal, tanpa pemahaman yang mendalam, mereka justru lebih rentan terjebak dalam skema penipuan atau investasi bodong,” kata Cooky T. Adhikara.
Baca Juga : Cooky T. Adhikara Dilantik sebagai Kepala Badan Vokasi dan Pelatihan KEIND Pusat
Efek ini juga berdampak pada manajemen keuangan. Individu dengan literasi keuangan rendah cenderung melebih-lebihkan kemampuannya, enggan mencari bantuan, dan gagal mengelola aset dengan baik. Riset Lopez-Valeiras et al. (2025) menunjukkan bahwa mereka yang kompeten justru kerap meragukan diri dan melewatkan peluang investasi.
Studi lain juga menyoroti bahwa rendahnya literasi keuangan menghambat pemanfaatan layanan keuangan digital. Banyak individu yang terjebak dalam pola pikir irasional, menyebabkan kesalahan dalam strategi pengelolaan dana (Gignac & Zajenkowski, 2020).
“Kesalahan dalam mengelola keuangan sering kali bukan hanya karena kurangnya informasi, tetapi juga akibat kepercayaan diri yang berlebihan. Orang cenderung merasa tahu segalanya tanpa benar-benar memahami risiko yang ada,” tambah Cooky.
Maraknya “influencer keuangan” tanpa kompetensi yang jelas semakin memperburuk situasi. Kerugian akibat penipuan digital hampir mencapai Rp2 triliun. Meski Undang-Undang ITE dan Perlindungan Konsumen sudah ada, efektivitasnya masih terbatas. Rendahnya tingkat pelaporan juga mencerminkan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap perlindungan hukum.
Memahami Dunning-Kruger Effect adalah langkah awal untuk menghindari jebakan penipuan dan kesalahan investasi. Masyarakat perlu meningkatkan literasi keuangan dan memahami konsep seperti “Pump and Dump” serta DeFi (Decentralized Finance). Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat bisa lebih cerdas dalam menghadapi tantangan finansial di era digital. (DID)
