YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Pekan Dewantara hadir tahun ini dengan rangkaian acara yang lebih segar dan bermakna. Pameran berjudul Menengok Kembali Memori Abadi Sang Guru Bangsa menjadi salah satunya. Pameran ini digelar di Perpustakaan Museum Dewantara Kirti Griya pada 1-4 Mei 2025 lalu.
Dibuka bertepatan dengan Hari Buruh, pameran ini tidak sekadar merayakan pendidikan, namun juga perjuangan yang bisa disampaikan melalui beragam bentuk, termasuk pendidikan.
Pameran ini diharapkan memberi wawasan kepada masyarakat mengenai perjuangan Ki Hadjar Dewantara yang masih hidup hingga hari ini dan tidak berhenti kala beliau meninggal dunia.
Baca Juga : Ajaran Ki Hadjar Dewantara Masih Relevan Sampai Sekarang
Tamansiswa yang menjadi warisan hidupnya justru merupakan wujud baru dari perjuangan politik Ki Hadjar Dewantara, yaitu melalui pendidikan.
“Pameran ini hadir berupaya untuk memberikan wawasan kepada masyarakat bahwa perjuangan politik Ki Hadjar tidak berhenti ketika berfokus di perguruan Tamansiswa. Hadirnya Tamansiswa merupakan wujud baru perjuangan politik Ki Hadjar yang lebih halus,” tutur Imam Basthomi selaku Koordinator Pameran Pekan Dewantara 2025.
Sempat absen pada perhelatan Pekan Dewantara 2023, agenda pameran dihidupkan kembali dengan dibagi menjadi empat linimasa.
Masing-masing liniasi menampilkan koleksi tiruan foto dan potongan media cetak terkait Ki Hadjar Dewantara dan perjuangannya.
Linimasa pertama diisi dengan kisah masa kecil Sang Tuan Guru Bangsa hingga beliau bergabung dengan Indische Partij. Kemudian dilanjutkan linimasa kedua yang diterangkan melalui periode waktu 1913-1919.
Kala itu, Ki Hadjar Dewantara harus menelan pahitnya pengasingan. Linimasa yang ketiga berfokus memaparkan hadirnya Tamansiswa dan dasar pendidikan nasional.
Pameran ini ditutup dengan linimasa keempat yang memvisualisasikan politik perang melawan ordonansi sekolah liar.
Perpustakaan Museum Dewantara Kirti Griya dipilih menjadi lokasi pameran karena mampu menyajikan ruangan yang intim di antara deretan buku dan dokumentasi terkait Ki Hadjar Dewantara serta Tamansiswa.
Pameran kali ini sekaligus berperan sebagai pintu masuk pengunjung untuk menyelami wawasan, baik yang diingat kembali maupun yang benar-benar anyar.
Berpadu dengan deretan buku, Pameran Dewantara 2025 ini menekankan bahwa kegiatan pendidikan serta kebudayaan di Tamansiswa adalah sebuah realitas simbolis dari apa yang menjadi mimpi Ki Hadjar Dewantara.
Perjuangan politik tidak hanya ditempuh dengan akal budi, namun juga hati nurani. Tujuan dari pendidikan dan kebudayaan adalah satu, yaitu merdeka.
“Kegiatan pendidikan dan kebudayaan yang berpusat di Taman Siswa merupakan realitas simbolis dari kenyataan politik Ki Hadjar Dewantara, yang memakai akal budi dan sekaligus hati nurani,” jelas Imam.
“Konsep pendidikan dan kebudayaan nasional yg dikembangkan oleh Tamansiswa merupakan manifestasi politik Ki Hadjar sebagai warga negara yang merdeka, yang tidak bebas dari tindak kolonialisme,” imbuhnya.
Empat hari mungkin terlalu singkat, namun selama kurun waktu tersebut, atensi pengunjung diterima dengan baik. Mereka yang berkunjung beragam.
Ada yang baru menginjakkan kaki pertama kali di Museum Dewantara Kirti Griya, dan ada pula yang bernostalgia.
Para peserta dari agenda Pekan Dewantara yang lain juga mendapatkan kesempatan yang sama. Termasuk peserta Napak Tilas yang digelar pada Sabtu, 3 Mei 2025, yang mendapatkan tur spesial pameran.
“Atensi pengunjung sangat positif. Baik dari generasi muda maupun tua sangat senang dan support dengan hadirnya pemeran kali ini. Banyak insights baru, yang diberikan maupun diterima,” ujar Imam Basthomi.
Pameran yang menjadi bagian dari Pekan Dewantara 2025 ini diinisiasi oleh Cakra Dewantara bersama Museum Dewantara Kirti Griya, di bawah dukungan Majelis Luhur Tamansiswa.
Pekan Dewantara bukan sekadar peringatan atas Hari Pendidikan Nasional, melainkan sekaligus perayaan perjalanan abadi Sang Tuan Guru kami, Ki Hadjar Dewantara.
Baca Juga : Pameran Besar Seni Kriya Resmi Dibuka, Tampilkan 135 Karya
Bertajuk Palagan Abadi Sang Tuan Guru, Pekan Dewantara kali ini menitikberatkan pada kesadaran bahwa napas perjuangan dalam menciptakan pendidikan untuk semua, tetap hidup hingga hari ini, meski dalam bentuk yang berbeda.
Tahun ini, Pekan Dewantara digelar dengan enam rangkaian acara, yaitu (1) Nyerat Dewantara, (2) Pekan Mengajar, (3) Pameran, (4) Sarasehan Dewantara, (5) Napak Tilas, dan (6) Penutupan.
Sebagian dari rangkaian tersebut adalah agenda yang selalu dipertahankan setiap tahun, sebagian dihidupkan kembali usai absen pada Pekan Dewantara 2023, dan sisanya diinspirasi dari perjalanan Cakra Dewantara bersama kolaborator.
Melalui prosesnya, Panitia Dewantara dibantu oleh beberapa pihak, baik internal maupun eksternal. (*/cdr)
