JAKARTA, BERNAS.ID – Founder & CEO CERVO ID, Cooky T. Adhikara, merespons positif akselerasi praktik keberlanjutan (sustainability) di Indonesia. Dalam ajang Sustainability & Public Relations Summit (SPRS) 2025 yang digelar LSPR Institute bersama Astra International, Cooky dinobatkan sebagai Best Presenter pada the 6th International Conference on Communication and Business (ICCB).
Dalam wawancaranya, Cooky menegaskan bahwa sustainability tidak boleh berhenti sebagai idealisme atau tren sesaat.
Baca Juga : Cooky T. Adhikara: Arketipe Bukan Sekadar Branding, Tapi Fondasi Strategi Bisnis
“Kalau hanya jadi pemanis komunikasi, yang muncul justru greenwashing, social washing, bahkan kelelahan publik atas isu keberlanjutan. Padahal, sustainability harus jadi strategi jangka panjang, masuk ke struktur dan budaya organisasi,” ujarnya.
Cooky juga menekankan pentingnya komunikasi yang tepat sasaran. Setiap organisasi, katanya, memiliki sudut pandang berbeda terhadap konsep keberlanjutan. Karena itu, pendekatan komunikasi harus relevan, kontekstual, dan berbasis nilai.
Ia mendukung pandangan Prita Kemal Gani, CEO LSPR Institute, bahwa storytelling dan program berdampak sangat penting dalam membangun reputasi keberlanjutan. Cooky juga menyambut pembentukan LSPR Centre for Sustainability and Leadership Excellence yang dinilai dapat mendorong peningkatan posisi Indonesia dalam indeks keberlanjutan global seperti SDG Index dan Environmental Performance Index.
Baca Juga : Cooky: Indonesia Harus Berani Hadapi Greenflation, Bukan Hanya Punya Komitmen
“Institusi seperti ini penting untuk meningkatkan literasi dan kepemimpinan dalam isu sustainability,” tambahnya.
Lebih jauh, Cooky melihat peran public relations (PR) kini harus bertransformasi. Menurutnya, PR bukan lagi sekadar penjaga citra, melainkan agen perubahan strategis.
“PR hari ini harus bisa jadi arsitek komunikasi yang mendorong aksi nyata, bukan hanya menyusun narasi,” tegasnya.
Sebagai pelaku bisnis, Cooky juga menyoroti ancaman greenflation, kenaikan harga akibat transisi menuju praktik ramah lingkungan. Ia mengingatkan bahwa tanpa kesiapan regulasi, insentif fiskal, dan distribusi energi yang baik, transisi hijau justru bisa menjadi beban bagi industri dan konsumen.
“Kalau tidak diantisipasi, greenflation bisa kontraproduktif terhadap niat baik sustainability itu sendiri,” pungkasnya. (DID)
