JAKARTA, BERNAS.ID – Di tengah riuhnya tantangan zaman, ketidakpastian ekonomi, derasnya arus digitalisasi, dan krisis kepercayaan pada pemimpin, sosok Ari Yuda Laksmana berdiri tenang dengan satu keyakinan, setiap manusia punya potensi, dan tugasnya adalah membantu mereka menemukan tempat yang pas. “I help you to fit rather than fix,” begitu kutipan yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.
Coach Ari, begitu ia disapa oleh kolega dan klien, adalah gambaran nyata dari seseorang yang menyulap pengalaman hidup menjadi panggilan jiwa. Lahir dari keluarga guru, ia sudah terbiasa melihat orang tuanya mengajar sejak kecil. “Saya tumbuh besar di sekolah orang tua saya. Ngeliat mereka ngajar itu jadi pemandangan harian,” kenangnya.
Tak heran jika sejak kuliah, Ari sudah terlibat aktif di dunia pelatihan. Ia membantu dosen membuat modul, memberi pelatihan ke orang tua, dan terjun sebagai relawan LSM yang fokus pada pengembangan komunitas anak muda. “Saya merasa paling hidup ketika memberikan training, bikin modul, fasilitasi kelas. Ada semacam kepuasan batin di situ,” ujarnya.
Baca Juga : Idayanti “Okky” Sudiro, Merangkai Emosi dan Energi dalam Literasi Keuangan Holistik
Namun perjalanan tak berhenti di sana. Dari NGO, dirinya hijrah ke korporasi, mendalami bidang SDM, dan akhirnya bertemu dengan dunia coaching yang mengubah segalanya.

“Saya merasa training itu hebat, tapi impact-nya seringkali nggak kelihatan. Setelah kelas selesai, saya nggak tahu peserta benar-benar berubah atau tidak,” tutur Ari. Tapi ketika mengenal coaching berbasis kompetensi ICF (International Coaching Federation), ia menemukan sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Coaching memungkinkan saya menemani orang satu per satu. Saya bisa tahu prosesnya, tahu transformasinya. Dan ketika mereka berhasil, saya ikut puas secara batin,” katanya pelan.
Lebih dari 500 jam sesi coaching sudah ia jalani, mulai dari fresh graduate hingga C-level di perusahaan besar. Salah satu pengalaman paling membekas adalah ketika mendampingi seorang profesional muda yang mengalami krisis eksistensial. “Dia merasa ingin resign tapi bingung arah. Setelah proses coaching, dia justru menemukan passion-nya mengolah sampah organik jadi produk lewat budidaya maggot. Sekarang dia punya komunitas sendiri,” cerita Ari, matanya berbinar.
Dua Gelar, Satu Misi: Menyentuh Pikiran dan Hati
Menariknya, Ari memiliki dua gelar sarjana yang sangat berbeda, Psikologi dari UNISBA dan Sastra Inggris dari UPI. Keduanya ia tempuh bersamaan, bergantian kuliah pagi dan sore. “Capek sih, tapi saya punya prinsip waktu itu: selagi muda, belajar sebanyak mungkin.”
Baca Juga : Ignatius Indro, Aktivis 98 yang Setia di Jalur Perjuangan dan Menolak Suharto Jadi Pahlawan
Dua disiplin ini justru menjadi senjata dalam dunia coaching. “Psikologi membantu saya memahami motivasi dan kepribadian orang. Sedangkan sastra mengasah kepekaan bahasa, cara bertanya, dan menyentuh secara emosional,” ujarnya.
Kemampuan linguistiknya juga membuka akses global. Ia pernah menjadi duta Indonesia dalam program SSEAYP (Ship for Southeast Asian Youth Program) pada 2005, berjejaring dan bertukar gagasan dengan pemuda dari seluruh Asia dan Jepang. “Tiga nilai utama yang saya pegang dari sana: mutual understanding, kolaborasi, dan keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil,” katanya.
CoachingYuk, Dari Gerakan ke Platform
Pengalaman panjang di dunia HR dan coaching mendorong Ari mendirikan CoachingYuk, sebuah platform digital yang memperkenalkan coaching ke masyarakat luas secara inklusif. “Selama ini coaching dianggap mewah, mahal, eksklusif. Saya ingin mengubah itu,” jelasnya.

Bukan sekadar platform, CoachingYuk adalah gerakan. “Kami tidak jual produk, kami bawa value. Ini soal transformasi. Coaching itu bukan tren, tapi kebutuhan,” katanya. Dengan target menjangkau satu juta orang Indonesia, Ari berharap coaching bisa menjadi jalan bagi siapa pun untuk hidup lebih baik.
Sebagai seorang Sustainability Leadership Coach, Ari memiliki pandangan tajam soal krisis kepemimpinan. “Pemimpin hari ini nggak cuma perlu mikirin angka. Tapi juga lingkungan, sosial, masa depan keluarga, bahkan generasi berikutnya. Jangan cuma ambil keputusan jangka pendek, tapi pikirkan apakah keputusan itu menciptakan masa depan yang berkelanjutan,” ujarnya penuh tekanan.
Baca Juga : Rini Dina Ludji, Dedikasikan Pengabdian di Dunia Medis
Ia juga aktif sebagai Business Director di WMK dan terus menjadi mentor bagi banyak perusahaan dan start-up. “Tantangannya jelas: bagaimana membagi waktu, menjaga energi, dan tetap menjaga nilai-nilai. Karena yang kita tawarkan bukan produk, tapi perubahan,” ujarnya.
Memandang AI, Mengiring Masa Depan Coaching
Meski erat dengan nilai humanis, Ari tidak menutup mata terhadap teknologi. Baginya, AI bukan ancaman, melainkan alat bantu. “AI tidak menggantikan coach, tapi memperkuat coach. Mereka yang bisa memanfaatkan AI akan bertahan. Yang menolaknya, ya tertinggal.”
Visinya tentang masa depan coaching sangat jelas: kombinasi antara human connection dan digital intelligence. “Tapi tetap, esensinya adalah manusia. Coach yang hadir secara penuh, mendengarkan dengan tulus, dan membimbing dengan hati.”
HR dan Kepemimpinan, Mendengar dan Menjembatani
Dengan pengalaman lebih dari satu dekade di dunia HR di perusahaan multinasional, Ari tahu betul betapa kompleksnya dunia organisasi. “Di satu sisi ada target bisnis, di sisi lain ada aspirasi karyawan. HR harus jadi jembatan yang adil.”
Kuncinya, menurut Ari, adalah keterbukaan. “Kita harus mendengarkan dua sisi, lalu menciptakan solusi yang manusiawi tapi tetap strategis. HR bukan cuma ngurus orang, tapi juga mengawal arah bisnis.”
Hidup yang Menyambung Hidup
Ketika ditanya tentang filosofi “fit rather than fix”, Ari menjawab dengan tenang, “Kadang, masalah itu nggak perlu diselesaikan. Mungkin kita hanya belum menemukan tempat yang cocok. Jadi jangan buru-buru memperbaiki, temukan dulu kesesuaiannya.”
Dalam dunia yang penuh tekanan dan perubahan, Ari Yuda Laksmana hadir sebagai penyejuk. Ia tidak menjanjikan solusi instan, tapi menuntun pelan-pelan hingga seseorang menemukan jalan pulangnya. Coaching, baginya, bukan profesi. Tapi cara hidup. (DID)
