JAKARTA,BERNAS.ID – Di tengah perubahan zaman dan sikap banyak tokoh reformasi yang mulai berkompromi dengan kekuasaan, nama Ignatius Indro tetap teguh sebagai simbol konsistensi perjuangan. Aktivis 98 ini tidak pernah lelah menggaungkan semangat reformasi, terutama dalam menjaga agar nilai-nilai yang diperjuangkan pada masa kejatuhan Orde Baru tidak luntur ditelan waktu.
Ignatius Indro dikenal luas sebagai tokoh yang aktif dalam gerakan mahasiswa 1998 dan juga supporter Timnas bukan hanya bagian dari massa aksi yang menuntut lengsernya Soeharto, tetapi juga menjadi sosok yang terus menjaga bara semangat perlawanan terhadap segala bentuk otoritarianisme.
Setelah reformasi bergulir, banyak tokoh mahasiswa ’98 yang masuk ke dalam sistem pemerintahan atau bahkan berkompromi dengan kekuatan lama. Tapi Indro memilih jalan yang lebih sunyi: tetap di luar kekuasaan, menjadi suara kritis rakyat, dan berdiri bersama kelompok-kelompok akar rumput. Ia konsisten membela hak-hak sipil, menentang kekerasan negara, dan menolak lupa terhadap kejahatan masa lalu.
Baca Juga Juga :Sejarah Waria Yogyakarta: Kisah Ketahanan Komunitas Terpinggir
Menolak Suharto Jadi Pahlawan Nasional
Salah satu sikap tegas yang ditunjukkan Ignatius Indro adalah penolakannya terhadap wacana menjadikan Suharto sebagai pahlawan nasional. Baginya, hal ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap sejarah dan darah yang telah tumpah dalam perjuangan melawan kediktatoran.
“Kami turun ke jalan tahun 1998 bukan untuk memperindah citra Soeharto di masa depan. Kami melawan karena rakyat ditindas, hak-hak dibungkam, dan kemiskinan disebarkan lewat sistem korup,” ujar Indro dalam sebuah wawancara.
Baca Juga :Kunjungi Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong, DPRD DIY Napak Tilas Peristiwa Rengasdengklok
Ia mengingatkan publik bahwa semasa Orde Baru, pelanggaran HAM terjadi secara sistematis—dari kasus penculikan aktivis, pembungkaman pers, pembantaian 1965, sampai praktik korupsi yang merajalela. Semua itu tidak bisa dihapus hanya karena narasi nostalgia atau kepentingan politik jangka pendek.
Kini, sebagai Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI), Indro masih menggunakan ruang aktivisme—bahkan dari dunia sepak bola—untuk menyuarakan nilai-nilai keadilan dan demokrasi. Ia menjadikan komunitas suporter bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai kekuatan sosial yang peduli terhadap isu-isu bangsa.
Sikap Ignatius Indro adalah pengingat bahwa perjuangan reformasi belum selesai. Ia tetap berdiri sebagai suara hati nurani yang menolak lupa, menolak kompromi terhadap pelanggar HAM, dan menolak pemutihan sejarah demi kepentingan politik.
Salah satu yang dilakukannya adalah membuat sebuah lagu yang menceritakan tentang pengalamannya di Tragedi Mei 98. 13 dan 14 Mei, 27 tahun yang lalu Jakarta dan beberapa daerah lain membara. Kerusuhan yang sistematis diciptakan untuk membuat rasa ketakutan masyarakat akibat keadaan yang mencekam. Korbanpun berjatuhan, hingga saat ini tidak terselesaikan.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Ignatius Indro dan kawan Nino Aditya serta band Thrash Metal, Lucretia membuat lagu yang berjudul “Hitam” yang kami harap membuat kita tidak akan lupa akan kejadian kelam yang terjadi di negeri ini.
Ignatius Indro dedikasikan lagu ini untuk semua keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia termasuk korban Tragedi Mei 98. (FIE)
