JAKARTA, BERNAS.ID – Pasar modal Indonesia kini berada di persimpangan. Dengan kapitalisasi mencapai Rp14.247 triliun, kekuatan utama pasar terbagi dua: negara melalui BUMN dan kelompok konglomerat swasta.
Dalam wawancara dengan Cooky T. Adhikara, Founder & CEO CERVO ID, terungkap bahwa perbedaan mendasar keduanya bukan sekadar skala, tetapi juga soal tata kelola.
“BUMN memang punya bobot besar di Bursa, sekitar Rp2.054 triliun atau 18,47% dari total IDX. Tapi ironisnya, 83% dari angka itu hanya ditopang lima entitas: BRI, Mandiri, Telkom, BNI, dan BSI. Puluhan lainnya hidup di tepi jurang,” kata Cooky.
Baca Juga : Cooky T. Adhikara: Arketipe Bukan Sekadar Branding, Tapi Fondasi Strategi Bisnis
Ia mencontohkan Waskita Karya, Wijaya Karya, Adhi Karya, dan PP yang valuasinya hanya Rp15–20 triliun, padahal utang menembus Rp120 triliun. Garuda Indonesia juga kembali merugi setelah restrukturisasi. “Kalau perusahaan swasta, kondisinya itu sudah default sejak lama,” tegasnya.
Menurut Cooky, masalah utama BUMN ada pada soft budget constraint, kebiasaan diselamatkan negara. Mandat ganda, mencari untung sekaligus melayani publik, membuat banyak BUMN kehilangan disiplin bisnis.
Di sisi lain, kelompok konglomerat keluarga justru makin agresif. Dengan kapitalisasi Rp5.357 triliun atau 37,6% pasar, mereka ekspansif ke sektor sunrise seperti data center, telekomunikasi, dan energi hijau. Nama-nama besar seperti Djarum, Salim, Sinar Mas, hingga Barito, melangkah tanpa beban PSO.
“Pasar jelas lebih percaya ke swasta. Investor asing rela masuk ke saham BREN yang valuasinya Rp1.200 triliun, tapi menghindari BUMN konstruksi meski sudah diskon 70%,” ujar Cooky.
Baca Juga : Optimisme Presiden Prabowo untuk BPI Danantara Membangun Perekonomian Jangka Panjang
Namun ancaman terbesar, lanjutnya, ada pada risiko fiskal. Jika restrukturisasi BUMN karya gagal dan Garuda kembali tumbang, APBN bisa tersedot Rp150–200 triliun atau hampir 1% PDB. “Ini bukan sekadar bailout, tapi bisa mengganggu belanja produktif, bahkan mengancam stabilitas sistem keuangan,” kata Cooky.
Ia menilai Danantara, superholding BUMN, menjadi momentum krusial. Model ala Temasek diharapkan bisa mengonsolidasikan aset unggulan sekaligus menata yang bermasalah. Indeks BUMN20 sempat melonjak saat rencana ini diumumkan.
“Tapi hati-hati, kalau tanpa disiplin komersial, Danantara bisa jadi bank sampah raksasa,” ujarnya. Solusi yang ia tawarkan: fokus konsolidasi portofolio unggulan, pisahkan BUMN komersial dengan penugasan, dan terapkan tata kelola transparan.
“Pertaruhan kita sederhana,” simpul Cooky. “Apakah Danantara jadi Temasek Indonesia, atau sekadar payung politik bagi aset bermasalah.” (DID)
