JAKARTA, BERNAS.ID – Pakar hukum tata negara, Tomu Pasaribu, menilai Badan Intelijen Negara (BIN) gagal menjalankan fungsi deteksi dini terkait aksi demonstrasi yang berujung ricuh. Ia menyebut lembaga intelijen itu seperti “ketiduran” sehingga tidak mampu mengantisipasi potensi kerusuhan.
“Ini tragedi demo yang nyata-nyatanya BIN ketiduran. BIN itu mestinya sudah bisa mendeteksi jauh hari, bahkan mendekati tokoh-tokoh yang akan menggerakkan massa,” kata Tomu, Senin (1/9/2025).
Baca Juga : Gelombang Demo Dinilai Akibat Akumulasi Krisis Politik Sejak Era Jokowi
Menurutnya, BIN seharusnya memberi masukan kepada Presiden agar acara yang berpotensi memicu protes bisa diantisipasi atau ditunda. Namun, hal itu tidak terlihat dalam peristiwa belakangan ini.
“Kalau BIN bekerja maksimal, Presiden pasti sudah diingatkan. Tapi faktanya demo jadi liar setelah acara selesai. Itu bukti fungsi intelijen tidak berjalan,” tegas pria yang akrab disapa Topas itu.
Baca Juga : BNN Perkuat Intelijen Perang Melawan Narkotika
Tom juga mengkritik kondisi internal BIN yang dinilainya semakin jauh dari profesionalisme. Ia menilai lembaga tersebut kerap sibuk urusan politik, sehingga melupakan tugas utama menjaga keamanan negara.
“Kalau sibuk urusan lain, lupa tugas utama, akhirnya ya ketiduran. Intelijen bukan untuk nebak-nebak, tapi harus jelas: siapa tokohnya, apa agendanya, dan bagaimana menghadapinya,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kegagalan intelijen membaca situasi bisa membuat aksi-aksi massa ke depan semakin sulit dikendalikan. “Kalau dari awal salah membaca peta, seterusnya akan terus kebablasan. Itu berbahaya bagi negara,” pungkas Tom. (DID)
