KLATEN, BERNAS.ID – KH Mochammad Fathal, putra KH Moeslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem, akhirnya angkat bicara menyoroti kemelut yang membelit Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia menilai kepemimpinan PBNU di bawah KH Yahya Cholil Staquf gagal menjaga marwah jam’iyyah, terutama terkait skandal zionisme serta dugaan korupsi tambahan kuota dan penyelenggaraan haji 2023–2024.
Gus Moch, sapaan akrabnya, sangat prihatin melihat kinerja PBNU yang menurutnya jauh menurun dibanding para pendahulu. Ia menceritakan bagaimana kepemimpinan Gus Dur kerap ditemani Mbah Liem, baik ketika memimpin PBNU maupun saat menjabat Presiden ke-4 RI.
Keduanya, kata Gus Moch, memiliki kelebihan sebagai sosok teladan dengan karakter masing-masing, tetapi saling melengkapi dan menguatkan. “Saya tidak bermaksud membandingkan, tapi Gus Dur dan Mbah Liem bisa diteladani oleh petinggi PBNU. Teladan nasionalismenya, tujuan perjuangan-pengabdian keduanya limashlahatil ‘ammah (zuhud), dan kesederhanaan dalam perilaku (wirai) yang jauh dari pragmatis,” ujarnya.
Baca Juga : Barghouti Kecam PBNU, Gus Fahmi Ingatkan Gus Yahya Jangan Ubah Arah NU
“Keduanya selalu hadir dalam situasi kritis. Berikhtiar menyelamatkan kehidupan bernegara, bangsa, dan beragama dengan cara-cara tidak biasa,” tambahnya.
Namun, Gus Moch mengaku mengelus dada mengikuti perilaku petinggi PBNU saat ini yang tidak hanya membuka pintu untuk zionisme Israel, bahkan bersahabat dan bekerja sama. Baginya, langkah tersebut telah merusak pakem dakwah ulama nusantara sekaligus membahayakan masa depan bangsa.
Ia menilai manuver-manuver petinggi PBNU dalam berpolitik dan sikap pragmatis mereka dalam tata kelola kewajiban negara, mulai dari urusan tambang, tambahan kuota, hingga penyelenggaraan haji yang menyeret petinggi PBNU ke dugaan kasus korupsi, telah meruntuhkan wibawa organisasi dan para pendahulu jam’iyyah.
“Apa yang mereka lakukan bisa membahayakan NKRI dan NU. Apa mereka tidak menyadari hal demikian bisa meruntuhkan segala landasan kebaikan berjam’iyyah yang telah ditanam dan dirawat para pendahulu NU,” tegas putra kiai pencetus slogan NKRI Harga Mati dan Pancasila Jaya itu.
Ia menambahkan, “Teladan Gus Dur luar biasa, berkorban demi keutuhan negara dan menyemai landasan kesatuan bangsa. Mbah Liem juga demikian, nama pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti yang beliau dirikan, menjadi komitmen nasionalisme ulama pesantren.”
Baca Juga : NU Serukan Gencatan Senjata Rusia-Ukraina
Menurut Gus Moch, tanggung jawab NU menjaga NKRI dan kedaulatan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia menghendaki pemimpinnya memiliki standar kualifikasi, kompetensi, dan spesifikasi di atas rata-rata. Standar moral, kepemimpinan, keilmuan, kewaspadaan, dan kebijaksanaan wajib dipenuhi, termasuk ketika diberi amanah urusan negara.
Ia mencontohkan Gus Dur, baik saat menjabat Ketua Umum PBNU maupun ketika menjadi Presiden, tetap hidup sederhana. “Sedikitpun tidak tampak memanfaatkan jabatan dengan sikap pragmatis menumpuk kekayaan, tapi sebaliknya banyak karya warisan monumental yang ditinggalkan,” ujarnya.
Hal itu, lanjutnya, sangat berbeda dengan kondisi PBNU saat ini. “Petinggi PBNU berebut klaim pewaris perjuangan Gus Dur, namun penampilannya seperti selebriti, kehidupannya seperti pengusaha papan atas, dan sikapnya meniru politisi yang pandai berdiplomasi. Masak petinggi PBNU berebut usaha tambang, berebut jadi komisaris BUMN, berebut jadi mitra pengadaan barang dan jasa kebutuhan haji, apalagi berebut keuntungan dari tambahan kuota haji,” kritiknya.
Sebagai penerus kepengasuhan PP Al-Muttaqien Pancasila Sakti (ALPANSA) Karanganom, Klaten, Gus Moch menyatakan setuju dengan desakan para kiai agar petinggi PBNU melakukan muhasabah dan jujur. Ia menegaskan pentingnya menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada KPK terkait dugaan korupsi haji. “Agar negara bisa menegakkan kedaulatan hukum bagi siapapun yang melanggar,” tandasnya.
Menurut Gus Moch, kemelut penyusupan zionisme Israel ke NKRI melalui PBNU, dugaan korupsi haji, dan perebutan urusan tambang menunjukkan kegagalan kepemimpinan di tubuh PBNU. “Maka, kepemimpinan PBNU saat ini tidak perlu dilanjutkan karena dampak kerusakannya sistemik,” jelasnya.
“Saya setuju mereka mengundurkan diri. Kalau tidak, segera percepat pergantian kepemimpinan di PBNU,” tegas Gus Moch yang kini juga menjabat Ketua Lembaga Penjaga, Pembela NKRI Pancasila (LP2NKRI Pancasila). (DID)
