YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Peringatan HUT Kota Jogja ke-269 pada 7 Oktober 2025 nanti jadi momentum bagi Pemerintah Kota Yogyakarta untuk merealisasikan program Jogja Zero Gepeng (gelandangan dan pengemis). Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan, perayaan hari jadi bakal ditandai dengan sebuah perubahan, bukan sekadar seremonial semata.
“HUT kota itu jangan hanya jadi pesta. Ini harus jadi titik balik, momentum perubahan untuk menjadikan kota kita lebih tertata, lebih manusiawi, dan lebih baik ke depan,” katanya, Senin (29/9/25).
Salah satunya, Hasto menekankan, bahwa persoalan gepeng di wilayah Kota Jogja tidak boleh dibiarkan berlarut. Sehingga, Pemkot Yogyakarta harus melakukan pendataan menyeluruh, sekaligus merumuskan solusi dengan tetap memanusiakan mereka.
“Harus didata, mengapa bisa jadi gelandangan, mengapa tidak punya rumah, serta nanti solusinya bagaimana. Dinas Sosial bisa memberikan jawaban atas itu. Setelah diurus, kita harus berani moratorium. Jangan sampai muncul gelandangan baru terus-menerus,” tegasnya.
Baca juga: Satpol PP DIY Tindak Warga yang Beri Uang ke Pengemis
Hal yang sama menurutnya juga berlaku bagi para pengamen, di mana berdasarkan data yang diterimanya, saat ini tercatat 53 orang dan tergabung ke dalam 23 kelompok. Menurut Hasto, jumlah tersebut harus dikelola dengan baik supaya tidak bertambah, dengan menyediakan tempat-tempat khusus untuk aktivitasnya.
“Tugas kita mengurus pengamen yang sudah ada, bukan membiarkan tambah banyak. Saya akan persuasif dengan restoran, hotel, dan tempat-tempat ramai, agar mereka bisa memberikan ruang bagi pengamen untuk tampil tanpa harus mengganggu lalu lintas atau pejalan kaki,” paparnya.
Sebagai contoh, Hasto menyebut, kawasan Embung Giwangan dan Taman Pintar dapat dijadikan ruang alternatif bagi pengamen untuk berkarya. Bukan tanpa alasan, di lokasi-lokasi tersebut, pengunjung pun bisa terhibur tanpa ada paksaan, seperti yang sering terjadi di kawasan pedestrian atau ruas-ruas jalan protokol.
“Kalau di lampu merah, itu dilarang. Selain mengganggu lalu lintas, juga menyalahi fungsi trotoar. Bahkan, ada hotel yang pernah protes, karena pengamen di perempatan dekat hotel membuat tamunya terganggu,” tandasnya. (den)
