SLEMAN, BERNAS.ID- YAKKUM Emergency Unit (YEU) menggelar pertemuan Audiensi Inovator IDEAKSI 2.0 dan Multipihak di Hotel Tara, Kamis (20/11). Pertemuan ini bertujuan untuk membuka ruang dialog, berbagi pengalaman, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mendukung serta memperluas penerapan inovasi-inovasi lokal sebagai bagian dari sistem penanggulangan bencana yang inklusif, berkelanjutan dan berbasis masyarakat bersama pemangku kepentingan.
Program IDEAKSI yang telah dilakukan bersama komunitas masyarakat telah memunculkan berbagai ide inisiatif dan inovasi lokal dari masyarakat di lima kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu di Gunungkidul, Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Kota Yogyakarta yang berfokus pada pada kepemimpinan masyarakat, pengurangan risiko bencana, dan adaptasi perubahan iklim.
Baca Juga Sri Sultan Terima 120 Manuskrip Jawa Kuno Digital Dari Inggris
Ada 15 inovator lokal yang telah mengembangkan berbagai solusi berbasis kearifan lokal, teknologi tepat guna, hingga model pemberdayaan masyarakat yang terbukti efektif meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat. Inovasi-inovasi tersebut tidak hanya menunjukkan kepedulian dan kreativitas masyarakat, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa upaya pengurangan risiko bencana dapat dilakukan dari tingkat masyarakat paling bawah dengan pendekatan yang adaptif, inklusi dan berkelanjutan.
Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi para inovator ini adalah keberlanjutan program dan pengembangan inovasi agar dapat memberikan dampak lebih luas. Banyak inovasi yang telah berjalan baik di tingkat lokal, namun masih terbatas dalam hal dukungan pendanaan, jaringan kemitraan, serta pengakuan dan replikasi di wilayah lain. Salah satu langkah kunci dalam mencapai keberlanjutan ini adalah mendorong adopsi inovasi ke dalam kebijakan publik dan program pendanaan daerah maupun nasional.
Manajer Projek, Jessica Novia mengatakan pertemuan ini sangat penting bagi inovator lokal agar bisa mengetahui sebenarnya apakah ada program kerja dari instansi, lembaga, dan dinas yang bisa mendukung keberlanjutan dari inisiatif masyarakat, serta mengetahui jika misalnya ada program-program atau kompetisi yang bisa diikuti.”Jika kami bisa melaporkan capaian-capaian ini sebagai juga penilaian dari kinerja satu kalurahan atau dari dinas maka bisa berkolaborasi di antara kedua belah pihak,” terangnya ke awak media.
Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk menjembatani para inovator dengan berbagai pihak yang memiliki peran dan kapasitas mendukung keberlanjutan inovasi, seperti dari unsur pemerintah daerah, lembaga non-pemerintah, perguruan tinggi, maupun sektor swasta, agar inovasi lokal dapat diakui, diintegrasikan, dan direplikasi melalui kebijakan dan dukungan pendanaan.
Sebagai bentuk upaya memperkuat inovasi penanggulangan bencana di DIY, maka perlu dilakukan kegiatan audiensi dan dialog multipihak antara para inovator dengan pemangku kepentingan terkait. Harapannya, membuka ruang komunikasi, berbagi pengalaman, serta membangun kolaborasi yang dapat memperkuat dukungan bagi masing-masing inovasi sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan lokalnya.
“Melalui audiensi ini diharapkan akan lahir komitmen bersama dalam memperkuat inovasi lokal sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem penanggulangan bencana yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat,” kata Jessica.
Lanjut tambahnya, audiensi ini juga membangun kolaborasi strategis antara inovator lokal dan pemangku kepentingan lintas sektor di DIY untuk mendorong pengakuan, replikasi, dan dukungan kebijakan terhadap keberlanjutan inovasi. Kemudian, mengidentifikasi peran, komitmen, dan peluang sinergi multipihak untuk mengintegrasikan inovasi komunitas ke dalam kebijakan, program, dan pendanaan pemerintah. “Kami juga ingin menyasar dari tingkat provinsi atau misalnya dari tingkat kabupaten. Sebenarnya ada peluang apa yang pas untuk dimasuki oleh si inovasi terkait program-program kerja. Apalagi dari kebencanaan ya, ada beberapa inovasi ini sangat bisa untuk mendukung penyesuaian, bukan hanya di Yogyakarta tapi juga di luar,” urainya.
“Contohnya di Bantul ada dapur umum bergerak dari FPRB Murti Gading yang baru saja merah juara satu untuk inovasi kalurahan di Bantul. Inovasi ini meningkatkan kapasitas di desa atau kalurahan. Jadi kesiapsiagaan terkait bencana dan krisis iklim bisa dipimpin oleh masyarakat. Jadi waktu responnya lebih singkat, lebih efektif dan yang pastinya berkelanjutan,” urai Jessica.
Selain itu, juga terdapat inovasi lokal terkait sistem barang inklusi untuk pengungsian di Umbulharjo, Cangkringan, kemudian inovasi terkait ketahanan pangan atau krisis iklim yang menyasar kekeringan di Gunungkidul. “Ada teman-teman Karang Taruna Prima Gadung yang bergerak untuk mitigasi longsor dengan penanaman melalui kearifan lokal di tempat mereka, serta juga ada pengelolaan sampah karena krisis sampah itu juga merupakan salah satu ancaman yang ada di Kota Yogyakarta,” tukasnya.
Sementara itu, salah satu perwakilan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bantul, Nur Hildan mengatakan adanya kegiatan ini sangat terbantu karena bisa mewujudkan inovasi dengan lebih baik sehingga bisa terwujud dapur umum bergerak, namanya Dapur Umum Bergerak Murtigading. “Dapur Umum Bergerak ini bentuknya semacam Campervan yang bisa ditarik kemanapun dan bisa akses kemanapun. Jadi ketika ada bencana, kita tidak membutuhkan dapur umum seperti yang dimiliki Dinas Sosial seperti truk. Jadi kita bisa menarik dapur umum kami ke segala tempat,” katanya.
“Harapannya ke depan bisa keberlanjutan untuk kalurahan-kalurahan yang ditetapkan sebagai desa penyangga atau kalurahan penyangga itu agar bisa menduplikasi ini. Kalau dulu kita harus membuat dapur umum itu harus membuat tenda, harus mengangkat barang-barang segala macam, kompor, kan membutuhkan waktu. Dengan adanya dapur umum bergerak bisa langsung ada. Jadi sekali angkut, terus langsung kita buka dan masyarakat langsung bisa memanfaatkan,” pungkasnya. (jat)
