JAKARTA, BERNAS.ID – Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementrian Kebudayaan menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terpumpun terkait pemasangan Chattra di Candi Borobudur, Rabu, (3/12/2025 )di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Senayan, Jakarta.
Kegiatan ini bertujuan untuk menampung masukan, tanggapan, dan saran dari berbagai pihak terkait rencana pemasangan chattra di Candi Borobudur, yang muncul lagi, setelah sebelumnya di akhir era pemerintahan Jokowi, urung dilakukan.
Ketua Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Marsis Sutopo yang menjadi salah satu narasumber mengatakan, pada tahun 2024 di akhir pernah ada rencana pemasangan chattra oleh pemerintah, namun urung dilakukan. Ia menegaskan, rencana pemasangan kembali chattra Borobudur harus dilakukan dengan memenuhi prinsip-prinsip arkeologis. Candi Borobudur sebagai World Heritage dengan Nomor List C 592 Tahun 1991, menurut dia mengikuti aturan-aturan Internasional, khususnya Konvensi Unesco 1972 (Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage).
“Konsekuensi sebagai World Heritage harus menjaga keaslian bentuk, originalitas dan autentisitas, serta mempertahankan Outstanding Universal Value atau OUV yang dimiliki,” ujarnya.
Baca juga: Pray For Borobudur Menggema Ketika Jokowi Direncanakan Pasang Batu di Puncak Borobudur
Ia mengatakan, ketika Chattra dipasang kembali apakah akan mempengaruhi originalitas, autentisitas, dan OUV. Karena itu, rencana pemasangan chattra memerlukan kajian karena menyangkut status Candi Borobudur sebagai Cagar Budaya (peringkat Nasional) dan World Heritage (Warisan Dunia).
“Dengan arsitektur dan konstruksi baru, jika chattra nanti dipasang apakah sudah diperhitungkan faktor keamanannya atau safety, karena Candi Borobudur setiap hari sudah dikunjungi oleh ribuan pengunjung,” kata dia.
Ia menambahkan, pemugaran Candi Borobudur sebenarnya sudah final. Karena itu rencana pemasangan chattra perlu kejelasan regulasi bahwa Borobudur yang sudah final pemugarannya dapat dipasang chattra dengan syarat khusus.
“Chattra rekonstruksi Van Erp [era Belanda] tidak dapat dipasang kembali,” tegasnya.
Soehardi Hartono selaku Presiden (Ketua) ICOMOS Indonesia menegaskan, rencana pemasangan chattra dari bahan apapun sama sekali tidak menambah Outstanding Universal Value yang sudah dimiliki Candi Borobudur. Justru itu akan membahayakan status Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia, karena melanggar prinsip konservasi.
“Harus hati-hati, karena kajian ini sangat sensitif, membutuhkan kepakaran,” tegasnya.
Baca juga: Puluhan Komunitas Tolak Rencana Pemasangan Chattra Borobudur, Biksu Juga Ikut Menolak
Sebelumnya, akhir bulan November 2025, Menteri Kebudayaan Fadli Zon melakukan kunjungan ke kawasan Balai Konservasi Borobudur, guna melihat bekas stupa rekayasa yang dipasang insinyur Belanda, Theodore Van Erp. Ini adalah bagian awal dari rencananya sebagai Menteri Kebudayaan untuk merealisasikan proyek pemasangan chattra di puncak stupa induk Borobudur. (den)
