SLEMAN, BERNAS.ID- Kapanewon Ngaglik meluncurkan gerakan spiritual bertajuk “Suling Naga” atau Subuh Keliling Ngaglik Menjaga Aqidah di tengah pesatnya kemajuan ekonomi yang membawa perubahan sosial. Melalui, Suling Naga ini, harapannya akan terus terjaga kebersamaan dan kerukunan masyarakat Ngaglik, khususnya kawula muda.
Program ini merupakan wujud nyata komitmen para pemimpin di Ngaglik dalam menyeimbangkan pembangunan fisik dan materi dengan pembangunan spiritual. Tak dipungkiri, Kapanewon Ngaglik saat ini berada dalam fase transisi sosial bergerak dari karakter perdesaan menuju kawasan perkotaan yang padat industri, perdagangan, dan jasa. Dinamika tersebut membawa tantangan baru yang harus dikelola bersama.
“Percepatan dinamika tersebut membawa potensi menurunnya nilai religius, melemahnya gotong-royong, serta meningkatnya kerawanan sosial. Karena itu diperlukan mitigasi dan kebersamaan seluruh unsur masyarakat,” kata Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro.
Untuk itu, Suling Naga dirancang sebagai wadah sinergi antara ulama, umara, dan organisasi Islam di Kapanewon Ngaglik yang diwujudkan melalui kegiatan Subuh Keliling. Program ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk membahas persoalan umat sekaligus memperkuat peran masjid di tengah masyarakat.”Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan dan pemberdayaan masyarakat muslim. Dari masjid, kita membangun solusi persoalan umat dan memperkuat kebersamaan,” terangnya.
Wawan menuturkan, tujuan besar dari program Suling Naga adalah mewujudkan masyarakat Ngaglik yang seimbang antara kesejahteraan lahir dan batin. “Kami berharap terwujud masyarakat Ngaglik yang tidak hanya sejahtera secara duniawi, tetapi juga sejahtera spiritualitasnya,” tegasnya.
Wawan menambahkan kehadiran lintas elemen ini menjadi simbol kuatnya komitmen bersama dalam menjaga aqidah, persatuan umat, dan ketenteraman sosial. “Dengan dimulainya Suling Naga dari Masjid Pathok Negoro, Pemerintah Kapanewon Ngaglik berharap masjid kembali menjadi pusat peradaban, penguatan moral, dan pemberdayaan umat yang berkelanjutan di tengah dinamika kehidupan modern,”katanya.
Ia menilai kehadiran anak-anak muda dalam gerakan subuh berjamaah ini menjadi indikator positif bagi keberlanjutan pembinaan aqidah di wilayah tersebut. Baginya, antusiasme yang ditunjukkan jamaah adalah modal sosial yang sangat besar untuk memperkuat kerukunan warga.
“Saya sangat bersyukur. Paling membanggakan adalah banyaknya anak-anak muda yang hadir secara sukarela. Ini menjadi energi positif sekaligus bahan bakar utama bagi gerakan Suling Naga agar terus konsisten di masa depan,” ujar Wawan.
Gerakan Suling Naga ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi budaya, terutama sebagai persiapan spiritual menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
“Ini adalah bukti komitmen kita bersama untuk membangun masyarakat tidak hanya secara lahiriah, tetapi juga batiniah. Melalui visi berjamaah dan bergerak menjaga aqidah, kita ingin mewujudkan masyarakat Ngaglik yang sejahtera lahir dan batin secara berkelanjutan,” tutupnya. (jat)
