YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menggelar acara pengukuhan guru besar, Selasa, 27 Januari 2026. Prof. Dr. dr. Rizaldy Taslim Pinzon, Sp.N., M.Kes., dikukuhkan menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran UKDW dalam ranting ilmu/kepakaran Nyeri Neuropatik.
Pengukuhan ini tidak hanya menjadi pencapaian akademik bagi Prof. Rizaldy Taslim Pinzon, tetapi juga menegaskan komitmen UKDW dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berpihak pada kemanusiaan, khususnya di bidang kesehatan dan pelayanan bagi masyarakat, termasuk para penyintas nyeri kronis yang kerap luput dari perhatian.
Dalam orasi ilmiah yang berjudul “Menyelami Misteri Nyeri Neuropatik: Dari Mekanisme Menuju Terapi Presisi,” Prof. Rizaldy Taslim Pinzon mengajak seluruh audiens untuk memandang nyeri tidak semata sebagai persoalan medis, melainkan sebagai pengalaman manusia yang kompleks. Nyeri kerap hadir tanpa tanda yang kasat mata, namun berdampak nyata terhadap aktivitas sehari-hari, relasi sosial, serta kualitas hidup seseorang. Nyeri neuropatik merupakan nyeri kronis yang timbul akibat gangguan atau kerusakan pada sistem saraf, baik perifer maupun sentral.
Berbeda dengan nyeri akibat luka atau peradangan, nyeri neuropatik sering kali muncul tanpa penyebab yang terlihat secara fisik.Gejala yang dirasakan pun beragam, mulai dari sensasi terbakar, tersengat listrik, mati rasa, hingga nyeri spontan yang muncul tanpa rangsangan.
“Banyak pasien datang dengan keluhan nyeri yang sulit dijelaskan, bahkan kerap tidak dipahami oleh lingkungan sekitarnya,” ungkap Prof. Rizaldy Taslim Pinzon dalam orasinya.
Ia meneruskan, di Indonesia, jumlah penderita nyeri neuropatik terus meningkat seiring bertambahnya kasus penyakit kronis seperti diabetes melitus, stroke, efek kemoterapi, serta cedera saraf. Namun, hingga kini, kondisi tersebut masih sering tidak dikenali secara dini dan belum tertangani secara optimal.
Dalam pemaparannya, Prof. Rizaldy Taslim Pinzon menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penanganan nyeri neuropatik adalah perbedaan respons terapi antarpasien. Tidak semua pasien menunjukkan perbaikan yang sama, meskipun menerima jenis pengobatan yang serupa. Hal ini terjadi karena nyeri neuropatik bukan merupakan satu kondisi tunggal. Dua pasien dengan penyebab penyakit yang sama dapat mengalami karakter nyeri yang berbeda serta menunjukkan respons terapi yang tidak seragam.
“Nyeri neuropatik memiliki banyak wajah. Di balik keluhan yang tampak serupa, mekanisme yang mendasarinya bisa sangat berbeda,” ujar alumnus SMA Kolese de Britto tahun 1994 ini.
Rizaldy Taslim Pinzon menekankan pentingnya penerapan kedokteran presisi (precision medicine) dalam penatalaksanaan nyeri neuropatik, yakni pendekatan pengobatan
yang disesuaikan dengan karakteristik individu pasien. Pendekatan ini dilakukan dengan mengenali fenotipe nyeri, yaitu pola gejala yang mencerminkan mekanisme dasar terjadinya nyeri. Dengan pemahaman tersebut, terapi dapat dipilih secara lebih tepat sasaran, sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien.
Baca juga: Pendeta Asnath Niwa Natar Dikukuhkan Jadi Profesor Teologi Pastoral dan Teologi Feminis UKDW
Selain bertujuan meningkatkan efektivitas pengobatan, pendekatan ini juga diharapkan dapat mengurangi penggunaan terapi yang tidak diperlukan serta meminimalkan risiko efek samping.
Dalam konteks pelayanan kesehatan di Indonesia, Prof. Rizaldy Taslim Pinzon menyoroti pentingnya penguatan pemahaman mengenai nyeri neuropatik, terutama di layanan kesehatan primer. Ia menilai bahwa perbedaan bahasa dan istilah medis kerap menjadi kendala dalam komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien.
Oleh karena itu, pengembangan instrumen asesmen nyeri neuropatik dalam bahasa Indonesia menjadi langkah strategis agar pasien dapat menyampaikan pengalaman nyerinya secara lebih akurat dan mudah dipahami.
Menutup orasinya, Rizaldy Taslim Pinzon membagikan refleksi mengenai makna menjadi akademisi di tengah perkembangan pesat kecerdasan buatan. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak semata lahir dari kemampuan memberikan jawaban cepat, melainkan dari keberanian untuk terus bertanya.
“Kegelisahan muncul karena masih banyak pasien yang belum memperoleh pengurangan nyeri yang optimal, dan masih banyak hal yang belum sepenuhnya kita pahami,” ungkapnya.
Ia menambahkan, perjalanan akademik merupakan proses panjang yang terus bertumbuh melalui riset, pengajaran, serta dialog lintas generasi. Pengukuhan Guru Besar ini sekaligus menegaskan peran UKDW sebagai rumah akademik yang tidak hanya melahirkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan harapan bagi dunia medis, bagi mahasiswa, dan bagi para pasien yang menantikan layanan kesehatan yang lebih adil dan personal. (den)
