JAKARTA,BERNAS.ID – Siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), YBR (10), tewas gantung diri lantaran orang tuanya tak mampu membelikan buku tulis dan pulpen. Sebelum tragedi tersebut, YBR dan siswa lainnya berkali-kali ditagih uang oleh sekolah sebesar Rp 1,2 juta.
Founder / Ketua Komunitas Rangkul Tangan Malika Nur Eman menanggapi peristiwa tersebut. Sebagai seseorang yang tergerak dibidang di komunitas sosial yang fokusnya di pendidikan, kejadian ini benar-benar sangat menyayat hati. Di kota modern seperti Jakarta saja masih banyak adik-adik yang mengalami kesulitan untuk mengemban pendidikan yang layak, fator utamanya karena masalah finansial, bagaimana dengan kota-kota yang lebih tertinggal pendidikannya?
“Adanya kejadian ini menjadi bukti bahwa pendidikan adalah hal penting bagi setiap anak bangsa. Sudah saatnya negara harus menjadikan isu kesenjangan pendidikan ini sebagai fokus utama yangharus dituntaskan,” kata Malika kepada media, Kamis (05/02/2026).
Baca Juga :RANTANG dan KAC Hadirkan Pembelajaran Menyenangkan untuk Anak-Anak Bantar Gebang
Ia melihat saat ini banyak sekali anak muda yang peduli akan isu pendidikan di negara ini dan mau membantu berkontribusi untuk isu ini lewat komunitas atau platform yang keberadaanya harus didukung.
“Sebagai penggerak komunitas terkait, Rangkul Tangan, salah satu mimpi besar saya adalah dapat mengembangkan sayap platform ini ke wilayah Indonesia yang pendidikannya masih tertinggal, khususnya wilayah Timur Indonesia, termasuk NTT. Kami percaya bahwa semua anak berhak atas pendidikan yang layak,” ungkapnya.
Dalam komunitas yang ia dirikan, Rangkul Tangan tidak hanya fokus memberikan pendidikan non-formal berbasis fun-learning untuk adik-adik pra-sejahtera saja, kami juga selalu menyalurkan alat sekolah kebutuhan belajar mereka setiap kali kami berkegiatan. Ia yakin bahwa alat sekolah juga dapat menunjang semangat adik dalam menjalankan proses belajar.
Baca Juga :Rangkul Tangan dan Sunday Flow Hadirkan Kegiatan Belajar dan Beryoga di Sekolah Anak Jalanan
“Harapannya, semoga hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. Dan negara dapat lebih concern terhadap isu pendidikan yang mana aspek ini juga menentukan masa dengan bangsa lewat generasi penerusnya,” pungkasnya.
Diketahui, anak SD tersebut bersekolah di SD negeri. YBR dipungut uang sekolah sebesar Rp 1.220.000 per tahun. Pembayaran dicicil selama setahun.
Orang tua YBR sudah membayar Rp 500 ribu untuk semester I. Tersisa Rp 720 ribu yang harus dilunasi secara cicil untuk semester II. (FIE)
