YOGYAKARTA, BERNAS.ID — Suasana Pasar Ramadan Jogokaryan Yogyakarta kembali dipenuhi euforia warga yang berburu takjil. Antrean panjang, ragam kuliner khas, hingga aroma jajanan yang menggoda menjadi magnet setiap sore.
Namun, satu persoalan klasik masih menghantui pengunjung, yakni tidak semua tenant menerima pembayaran digital melalui QRIS.
Di tengah tren masyarakat yang semakin terbiasa dengan transaksi cashless, banyak pengunjung harus kecewa ketika jajanan incaran hanya bisa dibayar dengan uang tunai.
Baca Juga : Operasi Gepeng di Jogja Diintensifkan Selama Ramadan
Mulai dari kolak, sate kere, hingga gorengan favorit, sebagian besar UMKM di pasar Ramadan masih mengandalkan uang fisik demi kemudahan operasional.
Dilema Pengunjung
– Antre panjang, tapi batal membeli karena tidak membawa uang tunai
– ATM terdekat penuh atau jaraknya jauh
– Transfer digital tidak bisa dilakukan, karena pedagang hanya menerima uang fisik
Inovasi Driver JogjaKita
Melihat keresahan ini, sejumlah Driver JogjaKita mengambil langkah inovatif. Mereka membuka layanan tarik tunai langsung di lokasi pasar Ramadan.
Caranya sederhana: pengunjung melakukan transfer digital melalui aplikasi, lalu driver memberikan uang tunai di tempat. Cepat, praktis, dan tanpa perlu meninggalkan antrean takjil.
Baca Juga : DPRD Jogja Manfaatkan Momentum Ramadhan Untuk Serap Aspirasi
“Biasanya kami hanya mengandalkan order ride atau food. Tapi saat Ramadan, kami melihat kebutuhan tambahan di lapangan. Banyak yang butuh uang cash mendadak. Dari situ kami coba buka layanan jasa tarik tunai, dan ternyata sangat membantu sekaligus menambah pemasukan harian,” ungkap Kamso, salah satu driver JogjaKita di Pasar Ramadan Jogokaryan, Selasa 24 Februari 2026.
Dampak Positif
– Memberikan solusi praktis bagi pengunjung yang tidak membawa uang tunai
– Membuka peluang ekonomi baru bagi driver JogjaKita
– Menjaga roda ekonomi UMKM tetap berputar tanpa hambatan sistem pembayaran
Lebih dari Sekadar Transportasi
Langkah ini menunjukkan bahwa digitalisasi transportasi lokal bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga tentang bagaimana komunitas mampu beradaptasi dan menciptakan solusi nyata sesuai kebutuhan masyarakat.
Ramadan kali ini, inovasi lahir bukan dari ruang rapat, melainkan dari jalanan. Dari driver, untuk warga Jogja. (*/cdr)
