YOGYAKARTA, BERNAS.ID- Empat orang penyintas stroke di Yogyakarta bekerja sama dengan STIKES Bethesda Yakkum resmi meluncurkan program “Sekolah Stroke”. Program ini didedikasikan khusus bagi para penyintas, keluarga, serta caregiver (pendamping).
Antusiasme peserta sangat luar biasa, terbukti dengan hadirnya perwakilan berbagai komunitas seperti Rabu Ceria Bethesda, Happy Embung Tambakboyo, Stroker Bahagia, PPSI, hingga peserta non-komunitas.
Ketua STIKES Bethesda Yakkum, Nurlia Ikanintyas, Ph.D., mengatakan Sekolah Stroke ini mengusung tema WIRA (Wujudkan Impian Raih Asa). Program ini tidak hanya sekadar edukasi, melainkan sebuah pendekatan edukatif-rehabilitatif yang komprehensif.
”Kami mendesain kurikulum berbasis kolaborasi multidisipliner yang melibatkan perawat, fisioterapis, tenaga medis, hingga caregiver. Tujuannya bukan hanya kesehatan fisik, tapi juga kemandirian ekonomi dan penguatan relasi sosial penyintas,” ujar Nurlia di Aula STIKES Bethesda Yakkum, Sabtu (7/3).
Metode yang diterapkan meliputi:
• Edukasi Interaktif: Diskusi dua arah mengenai penanganan stroke.
• Evaluasi Klinis & Fungsional: Pemantauan kondisi fisik secara berkala.
• Terapi Aktivitas Kelompok (TAK): Pemulihan melalui kegiatan bersama.
• Pendampingan Caregiver: Memberikan bekal keterampilan bagi pendamping pasien.
Salah satu penggagas dari kalangan penyintas, Budi Hartono, menekankan pentingnya aspek mental dalam pemulihan. Menurutnya, penyintas stroke wajib menjalani empat pilar rehabilitasi: Mental, Fisik, Rohani, dan Ekonomi.
”Kita harus bisa menerima keadaan new normal ini agar harapan hidup muncul. Dengan menyadari ada kehidupan yang lebih baik di depan, kita akan semangat berlatih. Kuncinya adalah Bersyukur Tanpa Libur,” pungkas Budi. (*)
