JAKARTA,BERNAS.ID – Peluncuran buku 27 Years Later: Reformasih! karya Kurnia Setiawan digelar di Guyonan Café. Acara ini menghadirkan sejumlah aktivis gerakan reformasi 1998 untuk berbagi pengalaman, refleksi, dan perspektif tentang perjalanan reformasi Indonesia selama hampir tiga dekade terakhir.
Dalam keterangannya, Kurnia Setiawan menjelaskan bahwa buku ini lahir dari upaya merawat ingatan kolektif mengenai perjuangan reformasi agar tidak hilang oleh waktu.
“Buku ini dibuat untuk merawat, merekam ingatan, menghindari amnesia sejarah. Pendekatan yang dipakai adalah postmo; menolak grand narrative (narasi besar yang bisa jadi dipaksakan), menampilkan kebenaran melalui berbagai perspektif dan cara—buku, komik, film, karya seni, dan lain-lain,” ujar Kurnia.
Baca Juga :Aktivis 98 : Menjadikan Soeharto Pahlawan Nasional Adalah Penghinaan Perjuangan Reformasi
Buku ini memuat foto, wawancara, cerita, serta hasil penelitian yang menjadi rekaman ingatan para aktivis 1998 yang tergabung dalam organisasi Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred). Dokumentasi tersebut merekam perjalanan selama 27 tahun, mulai dari peristiwa Reformasi 1998 hingga berbagai kegiatan refleksi dan penelitian yang dilakukan setelahnya.
Menurut Kurnia, proses pengumpulan materi buku ini merupakan bagian dari rangkaian kerja panjang yang telah dilakukan sejak dua dekade terakhir.
“Sejak peristiwa 98, pameran poster foto tahun 2008, penelitian, pembuatan film dokumenter, pameran 20 tahun Reformasi pada 2018, hingga penelitian 25 tahun Reformasi dan pasca Pilpres 2024. Melalui buku ini diharapkan dapat menginspirasi, khususnya generasi muda untuk bergerak dan berjuang. Reformasi(h)!”
Baca Juga :Aktivis HAM dan Akademisi Yogyakarta Tolak Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto
Diskusi dalam acara peluncuran buku ini menghadirkan sejumlah aktivis 98 sebagai narasumber, seperti : Savic Ali. Benny Hari Juliawan, Hengki Irawan, Ulung Rusman, Arif Rahman, Azmi Abubakar, Chandra Citrawati, Tadius Prio, Irwansyah, Ignatius Indro.
Dan dihadiri aktivis lainnya seperti Swandy Sihotang, Edberman Hutagalung, Hari Purwanto dan banyak lagi aktivis lainnya.
Selain para aktivis tersebut, acara ini juga menampilkan pandangan dari tokoh media dan seni visual, yakni Bre Redana serta Oscar Motuloh.
Peluncuran buku ini tidak hanya menjadi momentum refleksi perjalanan Reformasi 1998, tetapi juga ruang dialog lintas generasi mengenai tantangan demokrasi Indonesia hari ini. Para pembicara menekankan pentingnya menjaga ingatan sejarah sebagai fondasi bagi generasi muda untuk terus memperjuangkan nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan kebebasan.
27 Years Later: Reformasih! merupakan karya dokumentatif yang memadukan foto, riset, wawancara, serta narasi pengalaman para aktivis 1998. Buku ini menjadi arsip penting perjalanan gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil dalam memperjuangkan perubahan politik dan sosial di Indonesia.(FIE)
