BIAK NUMFOR, BERNAS.ID – Kondisi peninggalan sejarah di kawasan Goa Jepang Binsari, Kabupaten Biak Numfor, Papua, kian memprihatinkan. Minimnya fasilitas dan perawatan membuat berbagai artefak penting peninggalan Perang Dunia II terancam rusak bahkan punah.
Petugas pengelola Goa Jepang, Yusuf Rumaropen, mengungkapkan bahwa banyak benda bersejarah masih dibiarkan terbuka tanpa perlindungan memadai. Akibatnya, artefak tersebut terus terpapar panas dan hujan.

“Masih banyak benda-benda peninggalan tentara Jepang yang tercecer di ruang terbuka. Kena panas, kena hujan, lama-lama berkarat, hancur, dan bisa punah kalau tidak segera ditangani,” kata Yusuf pada BERNAS.id.
Baca Juga : Sejarahwan Ungkap Bukti Baru Peran Prancis dan India (Sepoy) Peristiwa Geger Sepehi 1812

Goa Jepang Binsari sendiri merupakan salah satu lokasi penting dalam sejarah Perang Dunia II. Tempat ini menjadi saksi bisu pertempuran sengit antara Jepang dan Amerika Serikat di Pulau Biak pada 1944.
Dalam catatan sejarah, goa tersebut pernah menjadi pusat persembunyian sekaligus logistik tentara Jepang. Namun, serangan udara pasukan Amerika Serikat yang menjatuhkan bahan bakar dan membakarnya menyebabkan ribuan tentara Jepang tewas di dalam goa.

“Di dalam goa ini dulunya ribuan tentara Jepang berlindung. Saat diserang, banyak yang meninggal di dalam. Sampai sekarang, jejaknya masih ada,” ujar Yusuf.
Ia menjelaskan, berbagai benda peninggalan perang seperti senjata, peluru, helm, hingga bagian pesawat tempur masih bisa ditemukan di sekitar kawasan Goa Jepang. Bahkan, sebagian di antaranya dikumpulkan dan dipajang secara sederhana di area sekitar goa.
Namun, keterbatasan biaya dan minimnya dukungan membuat upaya pelestarian berjalan seadanya. Yusuf mengaku selama ini pengelolaan kawasan lebih banyak dilakukan secara mandiri, bahkan hanya mengandalkan pemasukan dari tiket pengunjung.

Bangunan museum yang ada saat ini pun hanya berukuran kurang lebih 5 x 10 meter, sehingga tidak mampu menampung seluruh benda bersejarah yang ditemukan di kawasan tersebut.
Baca Juga : Bagian Aset dan Sejarah Bangsa, BRIN Meminta Inggris Kembalikan Manuskrip Asli Milik Sultan HB II
“Kalau bisa ada perhatian dari pemerintah, minimal dibuatkan tempat penyimpanan yang layak atau museum yang lebih baik. Supaya benda-benda ini tidak rusak dan tetap terjaga,” ujarnya.
Ia juga menyoroti risiko hilangnya artefak akibat pencurian, mengingat banyak benda bersejarah berada di area terbuka tanpa pengamanan memadai.

Kondisi ini dinilai ironis, mengingat Goa Jepang Binsari bukan hanya destinasi wisata sejarah, tetapi juga pengingat nyata akan dahsyatnya perang yang pernah terjadi di tanah Papua. Hingga kini, goa tersebut masih menyimpan keheningan yang menyiratkan tragedi kemanusiaan di masa lalu.
Yusuf juga meminta pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi Goa Jepang yang semakin memprihatinkan. Menurutnya, situs ini bukan hanya peninggalan sejarah Indonesia, tetapi juga bagian dari sejarah dunia yang memiliki nilai penting.

“Ini bukan hanya milik Indonesia, tapi sejarah dunia. Jangan sampai pemerintah menutup mata. Kalau dikelola dengan baik, ini bisa jadi daya tarik wisatawan mancanegara,” tegasnya.
Yusuf berharap adanya perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah untuk menyelamatkan situs bersejarah tersebut sebelum benar-benar kehilangan nilai sejarahnya.
“Ini bukan hanya tempat wisata, tapi saksi sejarah. Kalau tidak dijaga, kita bisa kehilangan jejak penting perjalanan masa lalu,” tutupnya. (Roro Wiwien)
