Bernas.id – Awalnya sebelum mengetahui ke Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu di daerah Kebagusan, puskesmas itu cenderung membosankan. Pengunjung atau pasien datang kemudian mendaftar dan mengantri untuk dipanggil, yang kadang pada beberapa puskesmas proses tunggu bisa mencapai hitungan jam. Lebih dari satu jam tepatnya. Sungguh membosankan utamanya bagi pengunjung.
Orang sakit di mana-mana ingin diistimewakan. Namanya juga sedang sakit, pasti menunggu satu jam bahkan lebih, itu akan terasa lama dong, ya? Bawa badan saja sudah berat, apalagi harus memahami kelelahan para petugas, yang ada sebagai orang sakit maunya petugas yang memahami kondisi pasien. Di sisi sebaliknya, saat pengunjung membludak, para petugas sudah pasti lelah. Mereka juga manusia yang memiliki keterbatasan tenaga. Saat lelah pasti bawaannya sewot atau muncul respon lainnya yang tentunya negatif di mata pasien.
Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu rupanya sudah menangkap sinyal tersebut. Menangkap kekesalan-kekesalan dan sudah menyiapkan solusinya. Tahukah Anda solusi apa yang mereka tawarkan? Yakni senam peregangan otot selama tiga menit.
Senam ini biasanya dilakukan sehari dua kali, yaitu setiap pukul 10.00 WIB dan pukul 14.00 WIB. Durasi dari kegiatannya sendiri adalah selama masing-masing tiga menit. Kegiatan senam ini sebenarnya juga dilakukan sebagai salah satu tanggapan terhadap himbauan dari Menteri Kesehatan dalam rangka membangun Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sehat.
Setiap harinya, pihak puskesmas akan mengumumkan panggilan melalui radio partisipasi, baik kepada petugas maupun pengunjung untuk mengikuti senam ini. Panggilan biasanya akan dilakukan 5 menit menjelang senam. Setelah lagu diputar, para petugas bak lebah yang baru keluar dari sarang semua berhamburan keluar. Para petugas bergoyang bersama dengan pasien yang sedang jenuh menunggu nomor antrean dipanggil. Tak sedikit pasien yang bersedia ikut berpartisipasi. Namun tak sedikit pula yang asik merekam video seolah sedang menyaksikan sebuah pertunjukkan. Hasilnya, banyak garis bibir yang merekah setelah menyaksikan kegiatan tersebut.
Gerakan yang cukup simpel membuat orang yang baru bergabung mudah mengikutinya. Hanya ada sekitar 10 variasi gerakan di dalamnya dengan tetap melibatkan gerakan otot tangan, kaki, dan badan khususnya pada bagian pundak. Selain itu, ada pesan-pesan yang diputar, agar kita hidup bahagia dengan menjadi diri sendiri. Sebuah perpaduan yang sempurna yang mampu mendorong distribusi oksigen mengalir ke otak. Alhasil, rasa kantuk hilang dan tentunya suplai oksigen ke otak juga lancar.
Ketika otak sudah mendapatkan asupan makanan utamanya, maka urusan stres bisa teratasi. Mengapa demikian? Saat berolah raga tubuh menghasilkan anti-depresan alami. Tubuh akan memompa tryptophan, satu jenis asam amino yang berkemampuan meningkatkan level serotonin. Serotonin sendiri merupakan hormon yang dapat mengurangi kadar stres. Di sisi lain, olahraga juga membantu menaikkan kadar dopamin dan norepineprine. Keduanya merupakan hormon alami yang bisa memicu perasaan bahagia.
Sungguh sebuah solusi fantastis bukan? Tak hanya bermanfaat bagi pasien, namun juga bagi petugas. Tak hanya menyehatkan jasmani namun juga rohani. Betapa tidak? Kelelahan dan kejenuhan akibat rutinitas pekerjaan dengan mobilitas yang tinggi, seperti di puskesmas tentunya akan menimbulkan perasaan stres tersendiri bagi petugas.
Kalau cara-cara di atas juga diterapkan di semua pekerjaan sepertinya oke juga ya? Akan lebih banyak orang yang tetap merasa bahagia dan terhindar dari kondisi stres. Karena bahagia itu sederhana.
