SLEMAN, BERNAS.ID – Pesawat Gatotkaca, CN250 yang digagas BJ Habibie buatan bangsa Indonesia yang pertama, telah sampai di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspurdirla) Yogyakarta pukul 4.30 pagi tadi saat fajar, Jumat (21/8/2020). Dua sayap dan tubuh pesawat diangkut dengan dua truk trailer melalui jalan darat. Berangkat pukul 1.45 WIB dari Depohar Bandung, Kamis dinihari.
Pesawat CN250 memiliki nilai historis yang sangat tinggi karena menjadi tonggak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Bangsa Indonesia. Pesawat CN250 menjadi bukti Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang bisa membuat pesawat terbang.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau), Marsma TNI Fajar Adriyanto menjelaskan alasan pesawat CN250 disimpan di Muspurdirla Yogyakarta atas permintaan Panglima TNI Jadi Tjahjanto saat menjadi KSAU. “Kenapa di Muspurdirla Yogyakarta atas permintaan atau gagasan dari Panglima TNI, Hadi Tjahjanto saat menjadi KSAU,” jelasnya di komplek Muspurdirla Yogyakarta.
“Beliau ingin pesawat yang membanggakan ini disaksikan oleh seluruh masyarakat Indonesia,” imbuhnya.
Kadispenau mengatakan pesawat CN250 ini akan diletakkan di depan Muspurdirla karena lokasinya yang strategis. “Kami akan rapikan dan taruh di paling depan anjungan museum untuk mengenang momen 25 tahun yang lalu. Kita rapikan saat datang dibuat pertama kali, kita sesuaikan saat pesawat ini terbang pertama kali,” benernya.
Ia mengatakan proses perakitan pesawat akan memakan waktu sekitar satu minggu. “Kita rencanakan untuk proses 1 minggu selesai. Kita akan perbaiki pelan-pelan agar lebih baik lagi. Agustus ini ditarget selesai agar masyarakat bisa segera melihat,” tuturnya.
25 tahun lalu merupakan momen pesawat CN250 terbang pertama kali pada tahun 1995 saat perayaan 50 tahun Indonesia Merdeka. “Terbang pertama kali disaksikan Bapak Presiden Soeharto dan para menteri,” ujarnya.
Marsma Fajar berharap dengan adanya pesawat CN250 semangat kedirgantaraan bangsa Indonesia akan tumbuh lagi. “Keinginan membuat pesawat seperti ini bisa tumbuh lagi dan memicu generasi muda semakin mencintai dirgantara,” katanya.
Untuk kendala di perjalanan, Marsma Fajar mengatakan truk trailer sempat tidak cukup melintasi gerbang tol saat di Semarang. “Beberapa pintu tol tidak cukup untuk dilewati misal di Gerbang Tol Kalikangkung dan Gerbang Tol Banyumanik Semarang. Caranya ban truk kita kempeskan, lalu saat keluar pintu tol kita pompa lagi,” paparnya.
“Padahal sebelumnya kita ukur awalnya sudah cukup, tapi tingginya tidak cukup,” imbuhnya.
Ia menyatakan tidak ada kerusakan selama perjalanan karena diprioritaskan untuk keselamatan pesawat. Untuk itu, pengangkutan pesawatnya dilakukan dengan kehati-hatian yang sangat tinggi.
Dalam sejarahnya, pesawat CN250 terhenti produksinya karena krisis moneter. Namun, pesawat ini terbilang canggih pada masanya karena bisa terbang dengan teknologi fly by wire dan menggunakan sensor-sensor elektronik, bahkan instrumennya sudah digital. “Sempat memukau pengunjung di Paris Air Show kala itu,” ucap Kadispenau.
Untuk personel yang terlibat, Marsma Fajar menyebut dari PT DI Bandung sebanyak 20 personil yang bertugas melepas dan merakit. Untuk TNI AU, kurang lebih dari 60 personil. Ia pun mengucapkan banyak terima kasih kepada jajaran jasa marga dan kepolisian. “Dalam perjalanan sempat menghambat lalu lintas. Namun masyarakat ternyata banyak antusias dan foto-foto di jalan, terutama di rest area, banyak masyarakat foto-foto,” tutupnya. (jat)
