HarianBernas.com – Pasar saham (IHSG) dan Obligasi mencatatkan kenaikan yang tinggi selama 2016 ini, lebih tinggi dibandingkan penempatan dana pada deposito. Apalagi dengan suku bunga perbankan yang terus mengalami penurunan. Namun setiap investasi juga mengandung risiko, sehingga edukasi investasi penting untuk dipahami
Pasar modal bergerak dinamis dan atraktif di sepanjang 2016 ini. Hingga pertengahan Oktober 2016, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah mengalami kenaikan Year to Date (IYTD) sebesar 17,6%, dengan aktivitas beli asing (net buy) mencapai Rp 38,7 Triliun dibandingkan selama 2015 yang ditutup dengan posisi jual bersih (net sell) sebesar Rp 27,5 Triliun.
Baca juga: Inilah 7 Daftar Aplikasi Investasi Resmi Versi OJK
Begitupula pada pasar obligasi, harga obligasi Pemerintah juga mencatatkan kenaikan yang luar biasa. Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor panjang mengalami kenaikan rata-rata sebesar 12-15% secara YTD. Aliran dana asing mengalir deras ke pasar obligasi dengan nilai beli bersih (net buy) sebesar Rp 122,8 Triliun dibandingkan nilai pembelian bersih (net buy) sepanjang 2015 sebesar Rp 96,8 Triliun. Besarnya aliran dana yang masuk ini mendorong penurunan yield obligasi, ditandai dengan pergerakan yield SUN tenor 10 tahun dari 8,76% (Des 2015) menjadi 7,06% (Okt 2016).
Dengan melihat kenaikan harga saham dan obligasi diatas, tentunya kita bisa turut membayangkan penambahan nilai kekayaan kita.
Sebagai ilustrasinya, Dana yang memiliki kekayaan dalam reksadana saham sebesar Rp 1 Miliar pada akhir 2015 lalu, hanya dalam 9 bulan saja sudah mengantongi keuntungan bersih sebesar Rp 170 juta…
Bandingkan dengan Sito yang menempatkan dananya pada deposito bank X, uang Rp 1 Miliar bertambah sebesar Rp 46,5 juta dalam tempo 9 bulan. Dengan perhitungan suku bunga deposito sebesar 7,75% pertahun dipotong pajak 20%. Betapa jauh berbeda, penambahan nilai kekayaannya.
Reksadana vs deposito = 17% vs 4,65%
= Rp 170 juta vs Rp 46,5 juta
Belum lagi, suku bunga perbankan sepanjang 2016 ini sudah menunjukkan tren penurunan. Penurunan suku bunga perbankan ini sejalan dengan pelonggaran kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI) untuk mendorong pemulihan pertumbuhan ekonomi. Tanpa disadari, BI sudah sedemikian agresifnya menurunkan suku bunga acuan sebanyak 4 kali, dari 7,5% menjadi 6,5%. Lalu untuk mempercepat transmisi kebijakan moneter pada sektor perbankan, pada 19 Agustus 2016 lalu, BI mengubah suku bunga acuan dari BI Rate menjadi 7days reverse repo.
Baca juga: Inilah Jam Buka Bursa Saham di Indonesia 2021
Dengan melihat perkembangan indikator aktivitas konsumsi dan produksi yang masih berjalan ditempat, serta level inflasi yang masih menurun dimana hingga Sept 2016 mencapai 3,01% yoy, maka BI kembali menurunkan suku bunga (7days reverse repo) sebesar 25 bps menjadi 5%. Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dan ekspektasi meningkatnya likuiditas dari tax amnesty, akhirnya turut mendorong penurunan suku bunga deposito perbankan.
Suku Bunga Perbankan Mengalami Penurunan
Nah bila suku bunga perbankan turun maka nilai investasi yang sudah kita tempatkan pada deposito perbankan juga mengalami penurunan. Sebagai ilustrasi, bila dulu Sito bisa mendapatkan 8,5% pertahunnya, sekarang bank x dan bank y hanya memberikan suku bunga 7,75% pertahunnya. Dikurangi pajak deposito 20% maka dengan uang Rp 1 Miliar, Sito hanya memperoleh bunga selama 1 tahun sebesar Rp 46,5 juta, lebih kecil dibandingkan bunga bank tahun lalu sebesar Rp 51 juta.
Suku bunga perbankan turun, keuntungan investasi juga berkurang
Dengan ilustrasi singkat di atas tentunya kita melihat sangat menarik ya investasi di pasar modal, bila dibandingkan hanya ditempatkan pada produk perbankan. Namun bukan berarti investasi pasar modal tidak memiliki kelemahan. Ada masanya kita memperoleh keuntungan dan ada masanya gejolak pasar modal meningkat sehinga memberi risiko investasi. Setiap hal yang dapat memberikan potensi keuntungan yang tinggi, juga memiliki risiko.
Untung rugi atau return risk menjadi ungkapan yang selalu berjalan bersama. Untuk itulah, Majoris Asset Management dalam artikel Navigasi Investasi ini akan memberikan ulasan yang mudah dipahami mengenai berbagai seluk beluk investasi dan mengajak pembaca untuk memahami berbagai faktor yang dapat membantu pengambilan keputusan investasi.
Baca juga: Memahami Investasi Reksadana Saham , Keuntungan, dan Risikonya
