HarianBernas.com – Dunia saat ini sedang diramaikan dengan fenomena Pokemon GO. Setiap hari kita disuguhi berbagai kabar yang berkaitan dengan game yang merajai lebih dari 20 negara ini. Begitu menuliskan kata-kata Pokemon Go, maka akan ada berbagai informasi yang disajikan dalam mesin pencari Google, mulai dari aspek positif, negatif, review, bahkan sampai cara curang, dan trik memenangkan permainan.
Memang tidak bisa dihindari jika Pokemon GO adalah salah satu terobosan baru dalam bermain game. Jika selama ini game selalu diasosiasikan sebagai permainan di dalam ruangan, maka Pokemon GO menjadi salah satu permainan yang sukses dalam membongkar pandangan itu. Para player atau yang disebut juga dengan Pokemon Trainer mau tidak mau harus keluar ruangan untuk berburu Pokemon. Adanya feature ini ternyata disambut dengan sangat baik.
Pokemon Go digrandungi masyarakat dunia karena berjenis Augmented Reality atau AR yaitu, teknologi yang dapat menggabungkan benda maya dua dimensi dan tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi yang kemudian memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata. Kendati demikian, kenyataannya permainan ini bukanlah game AR yang pertama.
Baca selengkapnya di Jenuh dengan Pokemon Go? Inilah 12 Permainan Augmented-Reality (AR) yang Bisa Anda Coba
Kemudian bagaimana dengan Indonesia sendiri, apakah kita hanya menjadi penikmat Pokemon Go saja? Walaupun ini juga tidak sepenuhnya benar, karena selama ini pecinta Pokemon Go Indonesia pun memakai cara illegal untuk mendapatkannya.
Baca selengkapnya di Pokemon GO Siap Hadir di 200 Negara
Lalu mampukah Indonesia mengembangkan game-game seru serta mendidik yang dapat menyamai atau bahkan melebihi Pokemon GO?
Ternyata saat ini ada game menarik yang sedang dikembangkan, bahkan lebih memiliki nuansa pendidikan. Game ini dikenal dengan nama MathCity Map (MCM). Cara memainkannya lebih kurang sama dengan Pokemon Go.
Pemain dengan smartphone yang terkoneksi dengan GPS bisa menginstal aplikasi MCM (diunduh lewat Google Play). Kemudian, pemain akan diminta untuk menelusuri jalan-jalan sesuai peta untuk dapat menemukan suatu pos.
Dari pos tersebut, pemain akan mendapatkan tugas untuk memecahkan masalah matematika yang berhubungan dengan tempat, bangunan, atau benda yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh, jika menemukan lokasi pos berupa sebuah kolam besar, maka player diminta untuk bisa menghitung berapa botol air (volume 1500mL) yang diperlukan untuk dapat mengisi kolam.
Jika ternyata pemain belum mampu menjawab, maka ia dapat membuka fitur bantuan atau hint untuk memperoleh informasi tambahan.
Pertanyaannya juga dirancang supaya pemain dapat memecahkan tugas dengan strategi yang dimiliki. Contohnya, untuk mengukur volume kolam maka Anda perlu mengukur diameter kolam. Lalu bagaimana cara mengukur diameter kolam besar yang berisi air hanya dengan memakai penggaris?
Games ini memang dirancang supaya pemain dapat merasakan pengalaman untuk memecahkan matematika di tempat dan situsi yang nyata. Jadi kita akan berpikir matematika dengan kasus yang nyata (tidak abstrak) dan persoalan matematika tersebut bisa ditemui di tempat-tempat umum entah di sekolah, pasar, taman atau tempat lainnya.
Para pelajar pun akhirnya akan antusias karena belajar matematika bukan hanya di kelas. Sebenarnya MCM ini adalah proyek riset dari Goethe-Universität Frankfurt a.M.,salah satu pengembangnya ialah Adi Nur Cahyono yakni seorang dosen muda di Universitas Negeri Semarang, dilansir dari Kompasiana.
Pada saat ini peta memang sudah tersedia untuk seluruh dunia, tapi tugas baru hanya tersedia untuk kota Frankfurt dan Semarang saja. Sementara untuk kota-kota lain masih menunggu kolaborasi atau kerjasama dari kota atau negara lain.
