HarianBernas.com – Umat Hindu Dharma di Bali baru saja menggelar ritual Tumpek Landep, persembahan suci khusus diperuntukkan bagi semua jenis benda yang terbuat dari logam, antara lain keris dan senjata pusaka, Sabtu (9/7/16).
Tradisi Tumpek Landep yang digelar oleh masyarakat Hindu merupakan satu dari rentetan peringatan rutin setelah Hari Raya Saraswati. Kombinasi diantara tradisi, budaya, dan agama membuat peringatan Tumpek Landep kian menarik. Ditambah lagi, Tumpek Landep menyimpan makna dan filosofinya sendiri.
Bukan dimaksudkan untuk menyembah benda-benda, upacara ini memiliki tujuan untuk memohon pada Ida Sang Hyang Widhi untuk memberi kekuatan pada benda tersebut untuk mempermudah hidup.
“Kegiatan ritual tersebut menggunakan kelengkapan sarana banten, rangkaian janur kombinasi bunga dan buah-buahan dipersembahkan untuk berbagai jenis alat produksi serta aset dari bahan besi, tembaga maupun emas, termasuk juga keris,” tutur Direktur Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr I Ketut Sumadi.
Dr Ketut Sumadi mengatakan, selain keris dan senjata pusaka pun mendapat persembahan khusus pada hari yang istimewa itu seperti halnya berbagai jenis mesin produksi, kendaraan, sepeda motor. dan alat teknologi.
Kegiatan ritual itu pada umumnya dilakukan di masing-masing rumah tangga dalam skala kecil, madya, dan utama sesuai dengan kemampuan dari keluarga yang bersangkutan. Semua itu bermakna untuk dapat memohon keselamatan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Senjata.
Kegiatan ritual yang berkaitan dengan Tumpek Landep di masing-masing keluarga ataupun perusahaan dan kantor berlangsung sejak pagi, sore sampai malam hari.
Ketut Sumadi pun menambahkan, Tumpek Landep sekaligus juga merupakan “pujawali” Betara Siwa yang berfungsi untuk melebur dan “memralina” (memusnahkan) kembali ke asalnya.
Masyarakat yang memiliki profesi sebagai petani akan mempersembahkan kurban suci ditujukan kepada alat-alat pertanian berupa cangkul, sabit ataupun traktor.
Semua peralatan yang terbuat dari besi dan tembaga termasuk juga mobil dan sepeda motor yang lalu-lalang di jalan raya pada hari Tumpek Landep itu diisi sesajen dan hiasan khusus dari janur yang disebut dengan “ceniga”, “sampian gangtung”, dan “tamiang”.
Semua itu adalah wujud puji syukur orang Bali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan pengetahuan dan juga kemampuan merancang teknologi canggih, sehingga tercipta benda-benda yang bisa mempermudah manusia dalam kehidupan sehari-hari, tambah Ketut Sumadi.
Sedangkan kandungan filosofi dari Tumpek Landep, yaitu tonggak penajaman, citta, budhi, dan manah. Berangkat dari ide tersebut maka masyarakat Hindu ingin selalu dapat berperilaku atas dasar kejernihan pikiran dengan agama sebagai landasan yang paling utama. Selain itu, peringatan ini dimaksudkan sebagai wadah instrospeksi diri.
Selain sebagai sarana permohonan, Tumpek Landep pun merupakan bentuk syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah mempermudah urusan manusia yang ada di Bumi. Secara keseluruhan, makna Tumpek Landep yang paling utama, yaitu manusia harus senanttiasa mengasah pikiran, nudhi, dan citta demi dapat memerangi kebodohan.
Kegiatan ritual tersebut pun dapat dimaknai sebagai sinergitas antara spiritual serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Konsepnya akan semakin berkembang sesuai dengan perkembangan iptek dalam kehidupan sehari-hari, maka alat-alat yang dipergunakan dalam kehidupan itu akan semakin banyak dan beragam.
Kondisi itu menimbulkan perkembangan yaitu alat-alat yang digunakan dalam kehidupan keseharian itu selalu mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman dan iptek, tutup Ketut Sumadi dilansir dari Antara.
