YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Yogyakarta memang pantas menyandang gelar Daerah Istimewa karena kentalnya kebudayaan serta keramahan masyarakatnya, juga terpeliharanya sistem pemerintahan. Selain Kraton Kesultanan di Yogyakarta juga terdapat Pakualaman.
Salah satu daya tarik Pakualaman adalah keberadaan abdi dalem. Tugas dari masing-masing abdi dalem berbeda-beda. Ada yang hanya sekedar menjaga lingkungan luar Pakualaman, menjaga dalam Pura Pakualaman dan mengurus keluarga Paku Alam. Ternyata, menjadi abdi dalem tidaklah mudah, perlu proses yang panjang untuk benar-benar ?madhep-marep-mantep?, tulus dan yakin mengabdi kepada Raja.
Salah satunya Bambang Herjuno, sudah 46 tahun menjadi abdi dalem. Juno, begitu disapa menjadi abdi dalem sejak Paku Alam VIII bertahta hingga sekarang. Ingin menjadi abdi dalem karena ia melihat neneknya menjadi abdi dalem. Akhirnya, Juno menjadi abdi dalem saat ia berusia 7 tahun dan satu-satunya abdi dalem yang paling muda pada saat itu. Masa kecilnya ia habiskan di dalam Pura Pakualaman. Setiap hari selesai pulang sekolah, Juno segera mengganti pakaian dan menuju Pura Pakualaman menjadi abdi dalem. Hari-harinya ia habiskan di dalam Pura Pakualaman. Hanya sekedar bermain, tetapi juga menjadi abdi dalem.
?Saya menjadi abdi dalem untuk menjaga lingkungan dan melestarikan budaya. Mengabdiku hanya pribadi sendiri. Saya menjaga lingkungan Pura Pakualaman kalau ada abdi dalem yang kurang bener, saya yang diberi kepercayaan,? ujarnya.
Pada masa Paku Alam VIII, Juno menjadi anak mas Raja. Ia disayang dan diberi kepercayaan penuh untuk menjaga Pura Pakualaman. Ia memperoleh nama dari dalam ?Jajarmas Jaga Sarana? yang artinya ia dipercaya menjaga seluruh sarana Pura Pakualaman.
?Kisah yang paling tidak terlupakan pada masa Paku Alam VIII, saat beliau sakit dibawa ke RS Sardjito hanya saya yang ditelepon untuk datang ke sana. Sampai di sana saya diberi pesan oleh beliau ?Kamu itu mengabdi, tidak usah pergi kemana mana. Jaga Pura Pakualaman, kalau ada apa-apa bilang ke Kanjeng?. Pulangnya, sesampainya di Pura Pakualaman saya mendapat kabar bahwa beliau bahwa beliau telah tiada. Sama seperti pada masa Paku Alam IX, juga seperti itu. Sampai di Pura Pakualaman saya mendapat kabar kalau beliau sudah tiada,? ujarnya dengan meneteskan air mata.
Juno salah satu abdi dalem yang sudah lama mengabdi dan sehari-hari hidup di Pura Pakualaman. Ia juga dipercaya harus tahu kondisi abdi dalem yang lain. Tidak heran jia ia mengetahui segala isi dan arti setiap ruangan Pura Pakualaman. Juno pun menceritakannya kepada Harian Bernas.
Gapura memuat tulisan Ing Dana Wara yang berarti ?modal?. Terdapat pula ukiran kata-kata sengkalan: Wiwara Kusuma Winayang Reka yang berarti ?pintu yang terungkap dalam wujud cipta?. Maksudnya kawasan Pura Pakualaman merupakan zona kehidupan yang memiliki kedalaman pemikiran filosofis. Tindakan memasuki kawasan itu merupakan modal awal menuju ranah pemikiran yang mendalam. Di seputar gapura terdapat kata-kata Engeta Angga Pribadi. Artinya, sebelum memasuki dunia pemikiran, manusia harus mawas diri. Tertoreh pula kata-kata Guna Titi Turun (kemampuan, kecermatan, kehendak). Hal itu menunjukkan bahwa Pura Pakualaman adalah kawasan dengan etos kerja tinggi serta pemikiran yang rasional. Terdapat lonceng sebagai penanda waktu. Hal itu menunjukkan sikap menghargai waktu untuk bekerja dan beribadah kepada Tuhan. Kemudian terdapat beberapa bangsal yang terdiri dari Bangsal Sewatama. Ini adalah bangunan induk Puro Pakualaman. Atapnya tidak berbentuk joglo tetapilimasan. Di bagian belakang bangsal ini terdapat empat saka guru lengkap dengan ulegnya. Ndalem Ageng Prabasuyasa adalah sebutan untuk seluruh bangunan terpenting yang terdapat di belakangBangsal Sewatama. Salah sebuah ruangan di dalamnya dipakai untuk menyimpan pusaka-pusaka yang dikeramatkan. Parangkarsa adalah bangunan yang berfungsi untuk mengadakan hajat keluarga seperti pertemuan, pesta, dan perkawinan. Gedhong Purwaretna, yakni bangunan yang terletak di sebelah kiri Bangsal Sewatama itu berdiri megah dengan behiaskan ukiran krawangan (ukiran tembus pandang). Keberadaan bangunan berarsitektur Barat ini merupakan cerminan jiwa pimpinan wangsa Pakualaman dalam menanggapi datangnya pengaruh modern pada awal abad 20. Bangsal Sewarengga adalah bangunan terbuka berbentuk joglo ini bersifat sakral. Di atas jalan masuk dari sebelah barat terdapat tulisan Sri Teka. Di atas jalan masuk dari sebelah timur terdapat tulisan Sri Ana. Hal itu menunjukkan aspirasi terhadap nilai-nilai kesuburan yang berkaitan dengan mitos Dewi Sri (dewi kesuburan). Terakhir, masjid di luar kompleks Puro, tepatnya di sudut barat laut alun-alun Sewandanan. Pada prasasti di sebelah utara tertoreh sengkalan: Pandhita Obah Sabda Tunggal yang menunjukkan tahun Jawa 1767 (1839 Masehi). Namun, pada prasasti di sebelah selatan tertoreh sengkalan: Gunaning Pujangga Sapta Tunggal yang menunjukkan tahun Jawa 1783 (1855 Masehi). Sampai sekarang masih diperdebatkan, tahun mana yang merupakan tahun pendirian Masjid tersebut.
Juno merasa aman dan nyaman hidup di Pura Pakualaman. Ia dengan ikhlas mengabdi. Untuk menjadi seorang abdi dalem harus melalui beberapa tahapan dan setiap naik tahapan abdi dalem melakukan proses wisuda. Tahapan urut-urutan sebagai abdi dalem Paku Alam, antara lain Magang, Jajarmas, Bekel, Lurah, Bei, Penewu, Wedono, dan derajat yang lebih tinggi dalam urutan abdi dalem, yakni Riyo.
Juno sampai saat ini tetap ?Jajarmas Jaga Sarana? hal ini dikarenakan sudah sejak awal mengabdi menjadi abdi dalem, dipercaya menjaga seluruh Pura Pakualaman dan tidak semua abdi dalem diberi kepercayaan menjaga seluruh Pura Pakualaman.
Ia menyampaikan pesan semoga paduka Paku Alam bisa mengayomi masyarakat Yogyakarta, khususnya untuk Pakualaman dan semua abdi dalem tentrem ayem. Juno juga menyampaikan mottonya ?Urip kuwi nrima ing pandum, isa bantu ruwete wong liya, pasrah karo sing gawe urip kanthi kupiya? yang artinya hidup itu harus bisa terbuka dengan pikiran orang lain dan pasrah dengan Yang Maha Kuasa disertai usaha. (/Nat)
