YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Momentum Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada hari Selasa (22/10/2025), menyimpan makna sejarah. Di Yogyakarta, yang memiliki sisi keistimewaan pada garis imajiner sumbu filosofi, dimaknai bahwa Jogja tidak lepas sebagai kota santri.
Gagasan itu muncul dari Sekretaris Komisi D DPRD Kota Jogja Solihul Hadi. Ia mendukung penuh identitas Yogyakarta sebagai kota santri. Sebab gagasan tersebut relevan dan strategis untuk menjaga keistimewaan serta sumbu filosofi Yogyakarta yang menghubungkan antara Tugu, Keraton dan Panggung Krapyak.
Adapun secara garis imajiner sumbu filosofi keberadaan Pondok Pesantren di Panggung Krapyak adalah PP tertua di Yogyakarta.
Baca Juga : Gelar Karang Taruna Bersholawat Peringati HUT 269 Tahun Jogja
Solihul mengatakan, label kota santri bukan julukan baru. Namun lebih kepada penegasan kembali akar sejarah dan budaya. Lantaran sudah sejak lama Yogyakarta telah memadukan nilai-nilai keislaman dengan kearifan lokal.
Karena hakikatnya, Yogyakarta telah memiliki akar sebagai kota santri. Itu dibuktikan dengan sejarah Mataram Islam dan peran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai penjaga kebudayaan sekaligus penyebar syiar Islam.
“Selain itu, pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh subur di sini adalah bukti nyata bahwa Yogyakarta memiliki akar sejarah santri” ujar Solihul, Rabu (22/10/2025).
Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta ini menjelaskan, makna berbudaya menjadi kunci penting dalam gagasanya. Sebab, santri di Kota Yogyakarta tidak hanya dididik untuk menguasai ilmu agama. Namun harus bisa hidup selaras dengan budaya adiluhung yang diwariskan para leluhur.
Solihul menilai, lewat perpaduan itu maka para santri tidak hanya melaksanakan kegiatan formal keagamaan. Namun, juga mengambil nilai-nilai penting dalam kehidupan budaya Jawa yang santun dan penuh filosofi.
Jika itu bisa benar-benar diterapkan, maka santri di Kota Yogyakarta tidak hanya memiliki kedalaman spiritualitas. Namun, juga mendapatkan bekal keluhuran budi pekerti seorang budayawan.
“Karakter inilah yang diyakini dapat menjadi benteng utama dalam menghadapi degradasi moral dan tantangan sosial,” tegas Solihul.
Solihul pun memandang, budaya yang selama ini dilakukan oleh para santri juga dapat menjadi solusi masalah sosial di kalangan remaja. Misalnya, seperti kenakalan remaja dan fenomena klitih.
Baca Juga : Protes Kasus Menghina Kyai Meluas, Ponpes se-Jogja Desak Usut Tuntas
Sebab ketika spirit kota santri diimplementasikan dengan baik. Maka masjid dan langgar akan kembali menjadi pusat kegiatan positif anak muda.
Lalu ruang-ruang publik akan diisi dengan festival seni dan budaya yang bernafaskan Islami. Serta pendidikan di sekolah pun akan lebih menekankan pada adab dan etika.
”Kami di DPRD khususnya Komisi D ingin kota ini tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga kokoh secara spiritual dan mulia secara budaya,” tegas Solihul. (Age)
