DEPOK, BERNAS.ID – Sancaya Art Space dengan bangga mempersembahakan pameran seni rupa dalam tajuk “Resonansi”, yang berlangsung 14 – 24 Februari 2026, di Galeri Sancaya Cinere Bellevue Mall Depok, Jawa Barat. Ini adalah sebuah perayaan ekspresi kreatif yang menghadirkan karya-karya seni visual yakni lukis, patung dan instalasi dari kolaborasi seniman.
Resonansi mengusung gagasan tentang getaran emosi, pengalaman, dan ide yang terjalin melalui medium seni. Setiap karya yang dipamerkan menjadi gema dari perjalanan batin sang seniman, sekaligus mengundang audiens untuk merasakan keterhubungan yang melampaui batas visual. Lukisan-lukisan dengan warna dramatis, patung yang menyuarakan bentuk-bentuk simbolis, dan instalasi yang interaktif akan membentuk ruang dialog antara karya dan pengunjung.
Penulis pameran Mahmud Elqadrie mengatakan, Resonansi adalah ruang di mana seni tidak hanya dipandang, tetapi juga dirasakan. Setiap karya adalah gema dari pengalaman batin yang berbeda, namun bersama-sama membentuk harmoni yang bisa menyentuh siapa saja yang melihatnya. Dari sinilah bahasa estetik terhubung yang menyiratkan pesan makna yang hendak ditafsirkan audiensnya.
“Relasi inilah yang hendak dinegosiasikan pada kehidupan yang diikhtiarkan mampu menjadi pencerahan,” ujar dia dalam pembukaan pameran, beberapa hari lalu.
Hal itu menurutnya sejalan dengan pemikiran Nikola Tesla (1856-1943), seorang ilmuwan—fisikawan, tentang keterhubungan otak manusia dengan denyut semesta yang dia rangkum dalam konsep Resonansi. Nikola Tesla dalam hipotesisnya menyebutkan bahwa otak manusia dan Bumi beresonansi pada frekuensi yang sama. Sebuah statemen yang kala itu banyak disikapi sinis bahkan condong dianggap
omong kosong sains. Namun sejarah di masa berikutnya—sepeninggal Nikola Tesla—membuktikan bahwa Tesla tidak pernah bercanda dengan setiap pernyataannya.
Adalah Winfried Otto Schumann (1888-1974), seorang fisikawan Jerman, yang menegaskan konfirmasinya terhadap hipotesis Nikola Tesla tentang kesamaan resonansi Otak manusia dengan Bumi tersebut dalam suatu postulat (yang kemudian dalam sains disebut ‘Resonansi Schumann’): bahwa Bumi berdenyut pada 7.83 Hz, sama dengan gelombang alfa otak manusia. “Kita tidak hanya berada di Bumi—Kita selaras dengannya”, ujarnya mengutip kata-kata Winfried Otto Schumann.
Selanjutnya dituturkannya bahwa menururt Nikola Tesla resonansi sejati kosmos itu memiliki kualitas spiritual dan penyembuhan yang mendalam. Segala sesuatu adalah getaran— frekuensi dan resonansi. Karena itu tema Resonansi dipilih sebagai bingkai dialektika antar gagasan, ekspresi jiwa-batin dan pengalaman subjetif dalam pengharapan untuk terjadinya sebuah lalulintas—interkonektifitas artefak-artefak makna, baik dari sesama manusia maupun (terlebih) dengan habitat—bumi, kosmos, semesta pembentuk tiap eksistensi.
Baca juga: Pameran Lukisan di Galeri Nasional Dibredel, Yos Suprapto Siap Bawa Pulang Karyanya ke Jogja
Salah satu peserta pameran dari Yogyakarta, Lidwina Riestanti dalam sambutannya mewakili para seniman mengatakan bahwa Resonansi menjadi kesempatan untuk membiarkan karya berbicara bukan hanya kepada mata tetapi juga kepada hati.
“Harapan dari pameran seni rupa ini tak hanya menyuguhkan karya secara visual tetapi juga sebagai ruang dialog dan ruang kontemplatif untuk para seniman maupun tamu pengunjung pameran,” kata dia.
Para seniman yang mengikuti pameran Resonansi ini merupakan kolaborasi dari berbagai daerah yakni Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya.
Nama -nama seniman yang berpameran di Resonansi meliputi: Ambar Pranasmara, Ary Kurniawan, Bambang Harnawa, Celena Aline Setioko, Erika Enda Ginting, Evy Desiyanti Eivi, Hardanisa Kumaratri, Heri Pe, Hery Sudiono, Lidwina Riestanti, Sohieb Toyaroja, Vincent Prijadi Purwono, Yayas Syahdu, dan Yusup Dilogo. (den)
