YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai sumber karbohidrat utama masih sangat tinggi. Sementara, kekayaan pangan lokal di wilayah Yogyakarta sangat melimpah.
Kondisi itulah yang memicu Komisi D DPRD Kota Yogyakarta untuk mengampanyekan menu pangan pengganti beras. Ketua Komisi D DPRD Kota Yogyakarta, Darini S.IP menegaskan, edukasi mengenai keragaman sumber pangan non-beras menjadi krusial. Bukan sekadar soal ketahanan pangan, namun juga menyasar pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
“Kita ingin menularkan kesadaran bahwa sumber pangan kita itu sangat banyak. Ada kentang, telo (singkong/ubi), dan berbagai umbi-umbian lainnya yang belum dimanfaatkan optimal,” ujar Darini di sela Lomba Memasak Sehat di wilayah Penembahan, Kraton, Sabtu (9/5/2026).
Baca Juga : 13.669 Anak di DIY Tak Sekolah, DPRD DIY Desak Pemerintah Pusat Batalkan Pemangkasan Anggaran Pendidikan
Politisi perempuan PDI Perjuangan ini tak menampik jika tantangan terbesar ada pada budaya makan masyarakat. Ungkapan “belum kenyang kalau belum makan nasi” sudah mendarah daging. Melalui inovasi menu pangan lokal, ia berharap pola pikir (mindset) tersebut perlahan bergeser.
“Pola pikir inilah yang ingin kita geser. Jika dibiasakan, sumber pangan seperti kentang atau telo ini tidak hanya mengenyangkan, tapi juga enak dan kaya gizi,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Darini menyoroti tren penyakit tidak menular yang belakangan meningkat. Kembali ke pangan alami dan beragam dinilai menjadi solusi strategis untuk membangun imunitas tubuh menuju generasi Yogyakarta yang lebih tangguh.
Senada, Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto, mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta untuk lebih serius memperhatikan pertanian perkotaan (urban farming). Mengingat keterbatasan lahan sawah di kota, teknologi tepat guna menjadi kunci kedaulatan pangan.
Baca Juga : Target 2030, Pansus DPRD DKI Dorong Jakarta Bebas Sampah
“Pemkot harus memfasilitasi aktivitas pertanian perkotaan dengan teknologi canggih atau tepat guna. Tentu ini harus didukung dengan anggaran yang memadai serta pelibatan para ahli,” tegas politikus yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta ini.
Dalam acara yang diikuti ibu-ibu dari Kemantren Kraton tersebut, berbagai olahan kreatif seperti tiwul modern hingga kreasi umbi-umbian tersaji. Keterlibatan kaum perempuan dianggap strategis, mengingat peran mereka sebagai manajer konsumsi yang menentukan standar gizi di tingkat keluarga. (age)
