YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, sorotan terhadap kondisi internal organisasi Islam terbesar di dunia itu menguat. NU dinilai tengah menghadapi tantangan serius, mulai dari konflik internal hingga kecenderungan politik pragmatis yang berpotensi melemahkan peran strategisnya.
KH Fahmi Basya menyebut, di tengah perubahan besar peradaban global—termasuk perkembangan kecerdasan buatan (AI)—NU seharusnya tampil sebagai pelopor. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ia menilai muncul gejala egosentrisme elite serta kedekatan berlebihan dengan kekuasaan yang berdampak pada melemahnya sikap kritis organisasi.
“Konflik internal yang belum selesai menjadi sinyal bahwa NU sedang tidak baik-baik saja,” kata pria yang akrab disapa Gus Fahmi dalam keterangannya.
Baca Juga : Pesantren Mlangi Serukan Islah dan Perbaikan Tata Kelola PBNU
Menurutnya, jika kondisi ini terus berlanjut, NU berisiko kehilangan momentum sebagai kekuatan besar dalam membangun peradaban, termasuk dalam agenda kebangkitan kedua NU (An-Nahdlah Ats-Tsaniyah).
Ia menegaskan, Muktamar ke-35 harus menjadi titik balik. NU dinilai membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial, visi strategis, dan keberanian melakukan transformasi.
“NU tidak cukup dipimpin figur populer. Harus ada pemimpin yang mampu menjadikan NU sebagai pusat solusi umat, dari pendidikan hingga teknologi,” ujarnya.
Fahmi juga mengingatkan pentingnya reformasi internal. Setidaknya ada empat hal yang harus dibenahi: penguatan integritas kepemimpinan, menjaga jarak dari politik pragmatis, membangun kembali otoritas intelektual, serta mendorong kemandirian ekonomi dan teknologi umat.
Baca Juga : Gus Moch Putra Waliyulloh Mbah Liem Nilai Gus Yahya selaku Ketum PBNU Gagal Jaga Jam’iyah, Saatnya Mundur
Ia menilai, tanpa langkah konkret, NU berpotensi tertinggal dalam arus perubahan global. Pesantren, misalnya, didorong tidak hanya menjadi pusat keilmuan klasik, tetapi juga pusat inovasi dan pengembangan teknologi.
Lebih jauh, Fahmi menekankan bahwa tantangan terbesar NU justru berasal dari dalam, bukan dari luar. Karena itu, introspeksi menjadi kunci untuk mencegah kemunduran organisasi.
“Organisasi besar biasanya runtuh bukan karena musuh luar, tapi karena kehilangan arah dan kualitas kepemimpinan,” katanya.
Ia pun mendorong agar Muktamar NU ke-35 segera digelar sebagai upaya menghadirkan kepemimpinan yang lebih kredibel dan mampu membawa pembaruan.
Menurutnya, tanpa pembenahan serius, NU berisiko hanya menjadi organisasi besar yang sibuk mengenang masa lalu, sementara perubahan zaman terus berjalan.
