YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Alumni SMA Kolese De Britto menggelar acara Manuk Padha Muni ke-17 secara daring, Sabtu (18/12/2021) malam. Ini adalah acara diskusi rutin yang digelar alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta, yang kali ini mengambil tema “Jlajah Tlatah Yogyakarta”.
Y. Argo Tiwikromo, antropolog yang juga anggota Dewan Kebudayaan DIY selalu pembicara menyampaikan, bahwa komponen keistimewaan Yogyakarta tidak tunggal, namun saling terkoneksi. Banyak karya budaya dan karya sosial yang lahir di Yogyakarta, yang membentuk ekosistem yang konstruktif.
“Banyak komponen yang membentuk ekosistem kedamaian, ekosistem keramahan, ekosistem kebersamaan,” ujar alumni De Britto 83 ini.
Baca juga: Pameran Foto Siswa De Britto Angkat Eksotisme Jogja
Carolus Prasetyadi, seorang geolog yang juga alumni De Britto 1977, pembicara lain di ajang ini menyampaikan, Yogyakarta memiliki Tebing Breksi yang merupakan warisan kebumian yang sangat unik. Yogyakarta juga memiliki gunung api aktif di utara dan pantai di sebelah selatan, dan ini menurutnya sangat unik.
“Sumbu Merapi dan Segara Kidul langsung berhubungan di Yogyakarta,” ujar alumni De Britto 1983 ini.
Keunikan lain, di daerah Gamping Yogyakarta, menurut dia ada batu gamping paling tua di Jawa. Sementara itu, di Gunungkidul, ada kumpulan batu gunung api purba Nglanggeran yang menakjubkan. Total ada 20 warisan geologi di kawasan DIY.
“Itu adalah warisan geologi yang bisa bercerita,” katanya.
Baca juga: Lustrum XIV de Britto, Mahfud MD Sebut 3 Hal Penyebab Hukum Tidak Ditegakkan
R.M. Altiyanto selaku abdi dalem Kraton Yogyakarta menyampaikan, kebudayaan memang sangat dekat dengan alam, termasuk budaya di Yogyakarta. Risiko kebencanaan di Jogja dengan adanya gunung berapi atau pantai selatan menurutnya ikut memicu tumbuhnya peradaban. Dan secara tradisional, kekuatan alam itu dicoba dirangkul dengan berbagai ritual, di antaranya labuhan.
“Labuhan ke Gunung Merapi, ke Pantai Selatan, ke Gunung Lawu,” ujar alumni De Britto 1997 ini.
Sementara dalang muda Ki G. Pradana Ardyamukti menilai, PR generasi muda sekarang selain menjaga dan mempertahankan budaya adalah juga membuat pembaruan dan inovasi budaya. Ini termasuk juga di dunia perdalangan. Karena itu para praktisi dan pelestari budaya menurutnya juga harus bisa menikmati kesenian modern yang kekinian.
“Itu malah menjadi sebuah jembatan agar antara tradisional dan modern, khususnya di perdalangan bisa bersatu,” jelas alumi De Britto 2020 tersebut.
Acara kali ini dimoderasi oleh Mayong Suryolaksono, Dewan Pengawas LKBN ANTARA, yang juga alumni De Britto 1980. Sementara dalam pembukaan acara, dihadirkan video pidato singkat dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Di tengah acara, ditampilkan pertunjukan Karawitan Kukila Pradangga yang beranggotakan para alumni De Britto. Selain itu ada juga penampilan Tari Topeng Walang Kekek oleh maestro tari Didik Nini Thowok. (den)
