Bernas. id – Saat seorang anak memiliki perilaku buruk atau prestasi yang rendah di sekolah, pada sebagian keluarga hal itu menjadi beban ibunya yang dinilai belum berhasil mendidik dan mengajari anak. Seolah-olah kondisi anak yang tidak sesuai harapan itu adalah mutlak kesalahan pendidikan ibunya.
Apakah pendidikan anak dalam keluarga semata-mata hanya tanggung jawab seorang ibu? Lalu ayah hanya bertanggung jawab terhadap nafkah keluarga? Mari kita simak sejenak bagaimana Al-Qur'an memberikan penjelasan yang indah mengenai peran ayah dalam pengasuhan anak.
Peran ayah dalam Islam banyak disampaikan Allah SWT melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an. Dan terdapat pula penjelasan melalui Hadits Nabi Muhammad SAW. Al Qur'an sendiri berbicara tentang ayah lebih banyak dibandingkan tentang ibu. Seperti dijabarkan dalam Hiwarul Aba' Ma'al Abna fiil Quranil Kariim Wa Tathbiqotuhut Tarbiyah karangan Sarah Binti Halil Ad Dakhili Al Muhajirin.
Dialog terkait pengasuhan anak dalam Al Qur'an berjumlah 17 dialog yang tersebar di 9 surat. Terdapat 14 dialog antara ayah dan anak. Dan 2 dialog antara ibu dan anak, serta 1 dialog antara orang tua tanpa nama dan anaknya. Jadi ayat tentang pengasuhan yang berisi dialog antara ayah dan anak memiliki jumlah yang paling banyak.
Dari jumlah ayat tentang pengasuhan anak yang berisi dialog antara ayah dan anak ini menunjukkan kepada kita semua bagaimana pendidikan anak yang dilakukan oleh ayah sangat utama.
Dalam buku Tarbiyatul Awlad fiil Islam karangan Abdullah Nashih 'Ulwan, disajikan satu kisah seorang lelaki yang mendatangi Umar bin Khattab seraya mengadukan kedurhakaan anaknya. Dan setelah Umar mendatangkan anak lelaki tersebut, terjadilah dialog sampai anak tersebut mengatakan bahwa ayahnya tidak satu pun memberikan haknya (diberikan pelajaran tentang Al -Qur'an dan tentang hal yang diadukan ayahnya). Pada akhirnya Umar Bin Khottob tidak memberikan hukuman pada sang anak. Melainkan hukuman pada sang ayah karena lalai memberikan pendidikan pada anaknya.
Menurut Umar Bin Khottob, hak anak dari ayahnya adalah memilih calon ibu yang baik untuk anaknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya Al Qu'ran.
Islam mengatur hak anak dari ayahnya jauh sebelum anak itu lahir. Ya, memilihkan calon ibu yang baik . Betapa Islam memberikan tanggung jawab itu kepada laki-laki sebagai pemenuhan salah satu hak anak.
Lantas bagaimana halnya setelah menikah? Laki-laki memiliki kewajiban menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (At Tahrim : 6). Karena laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya sebagaimana dikatakan dalam hadits
“… Seorang Laki-laki adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Yang cukup istimewa adalah bahwa ternyata ada panggilan khusus untuk ayah seperti diceritakan dalam Al Qur'an sebagaimana Yusuf memanggil ayahnya dengan sebutan ya abati (bukan Abi). Kata abati bermakna panggilan sayang dan rindu. Yusuf memanggil ayahnya dengan panggilan abati seakan-akan yang dipanggil (Ya'qub) berada di tempat yang jauh. Padahal dia ada di depannya.
Panggilan abati dibuat seakan-akan berada di tempat yang jauh yang dinantikan kehadirannya. Panggilan abati dimaksudkan adalah menghadirkan pikiran dan hatinya kepada ayahnya (Hiwarul aba-aba Ma'al Abna – Sarah Binti Halil Al Muthoyri).
Rindu seorang anak kepada ayahnya bukan hanya sebatas kerinduan fisik yang berdekatan, melainkan kehadiran pikiran dan perhatian ayah penuh tercurah untuk anak.
Anak-anak merindukan diberikan pelajaran tentang mengenal Allah, mengetahui Al Qur'an, dan belajar menentukan visi dan misi hidup mereka. Ayah perlu juga memberikan challenge/tantangan kepada anak sebagaimana yang diajarkan Ibrahim kepada Ismail. Sehingga anak menjadi tangguh dalam menghadapi kehidupan.
Ayah selayaknya memberi contoh berakhlaqul Karimah (akhlak yang baik), mengajari anak bagaimana keharusan menegakkan aturan, keberanian melakukan amar ma'ruf nahi munkar dan nilai-nilai lainnya yang bermanfaat sebagai bekal bagi kehidupan anak-anak di masa yang akan datang.
Ayah mempersiapkan anak-anaknya menjadi anak yang mandiri yang dapat menjalani kehidupan yang jauh lebih sulit dari zaman yang dialami ayah saat ini.
Mari kita belajar dari nasehat Luqman kepada anaknya. Dari perlakuan Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail. Dari kisah Nabi Yusuf dan Nabi Yakub dan tentunya belajarlah dari manusia mulia Nabi Muhammad SAW.
Kita dapat menyaksikan di mana ada tokoh hebat di situlah selalu hadir sosok ayah. Seperti Nabi Muhammad yang yatim, namun memiliki sosok ayah dalam diri Abdul Muthalib dan Abu Tholib. Seperti Maryam yang yatim, namun memiliki ayah pengganti dalam diri Nabi Zakaria. Seperti Imam Syafi'i sejak kecil dididik oleh Imam Waki'i. Guru yang menggantikan sosok ayahnya.
Sosok ayah sangat penting. Maka nikmatilah saat ayah masih dapat mendampingi pertumbuhan dan perkembangan anaknya secara langsung. Anak membutuhkan kehadiran ayah bukan hanya secara biologis namun juga secara psikologis.
Ayo ayah, jadilah ayah hebat. Jadilah ayah yang senantiasa dirindukan putra putrinya
.jpg)