Bernas.id ? Masih ingat dengan gerakan #MeToo yang menjadi tren pada tahun 2017 silam? Selebritis wanita di seluruh dunia beramai-ramai mendukung gerakan tersebut sambil menceritakan pengalaman pelecehan seksual yang pernah mereka alami masing-masing. Namun ternyata tidak semua selebritis wanita mendukung gerakan tersebut.
Catherine Deneuve adalah salah satunya. Aktris kawakan asal Perancis tersebut bersama dengan sekitar 100 pesohor lainnya menandatangani surat terbuka yang mengkritik gerakan feminisme yang sedang menjadi tren di dunia maya, termasuk gerakan #MeToo. Surat terbuka tersebut dimuat di surat kabar Perancis Le Monde pada hari Selasa (9/1/2018).
Menurut Deneuve dan para pendukung surat terbuka yang bersangkutan, aksi protes mengecam pelecehan seksual yang pernah menimpa kaum wanita sudah bergeser menjadi aksi massal untuk main hakim sendiri.
?Bukannya menolong kaum wanita, kegilaan ini… justru malah menolong mereka yang memusuhi kebebasan seksual. Yaitu para ekstrimis agama dan elemen terburuk gerakan reaksioner. Sebagai wanita, kami tidak merasa terwakili dalam gerakan ini yang, selain mengecam pelecehan seksual, menjadi ajang penumpahan kebencian kepada kaum pria dan seksualitas,? tulis para penandatangan surat tersebut.
Masih dalam surat yang sama, sang penulis juga mengecam rancunya batasan pemerkosaan yang dibuat oleh pendukung gerakan. Sebagai contoh, seorang pria bisa kehilangan pekerjaan dengan reputasi yang tercemar hanya karena memegang lutut atau mencoba mencium lawan jenisnya.
Catherine Deneuve sudah lama dikenal dengan pandangannya yang berseberangan terkait fenomena gerakan mengecam pelecehan seksual. Tahun lalu saat dimintai komentarnya mengenai tagar #MeToo dan #BalanceTonPorc (kampanye bertema serupa yang dalam bahasa Perancis berarti ?#PanggilKeluarBabimu?), ia merasa kalau metode yang digunakan sudah berlebihan.
Deneuve juga merupakan satu sedikit figur publik yang memberikan dukungan kepada Roman Polansi, sutradara kelahiran Perancis yang masih menjadi buronan di AS akibat tuduhan memperkosa remaja berusia 13 tahun pada tahun 1977.
