Bernas.id ? Rokok ibarat racun yang dibalut madu. Kendati bahaya rokok bagi kesehatan sudah menjadi pengetahuan umum, tetap saja banyak orang yang mengkonsumsi rokok karena dianggap membawa kenikmatan dan ketenangan bagi penggunanya. Keberadaan nikotin dalam rokok menjadi penyebab utama mengapa rokok bisa menimbulkan efek ketagihan saat dihisap.
Temuan terbaru para ilmuwan ini nampaknya bisa menjadi pintu gerbang menuju metode alternatif yang manjur untuk membantu orang berhenti merokok. Penelitian ini memang hanya mereka lakukan pada otak tikus. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa otak manusia juga memiliki sifat serupa karena adanya kemiripan struktur.
Di area tengah otak, terdapat dua bagian yang dikenal dengan sebutan habenula medial dan nukleus interpedunkular (IPN). Para ilmuwan sudah mengetahui kalau bagian tersebut terlibat dalam memberikan sifat ketagihan pada pemiliknya. Pengamatan yang lebih mendetail pun mereka lakukan pada bagian tersebut.
Hasilnya mereka menemukan kalau di dalam IPN, terdapat sel-sel yang bereaksi secara khusus saat terpapar nikotin. Normalnya ketika tubuh menerima nikotin, habenula akan memberikan sinyal tertentu kepada IPN supaya nikotin terasa kurang nikmat. Namun jika tubuh terpapar nikotin terlalu sering, senyawa yang memblokir sintal dari habenula akan muncul, sehingga tubuh merasa ketagihan dengan nikotin.
Pengamatan pada tikus yang sudah diberi nikotin selama enam minggu berturut-turut menemukan bahwa pemberian nikotin terlalu sering akan mengubah beberapa neuron dalam otak. Oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Ines Ibanez-Tallon, kumpulan neuron tersebut diberi nama Amigo1.
Percobaan yang dilakukan pada tikus dengan kondisi Amigo1 berbeda-beda menemukan kalau Amigo1 memang menjadi penyebab ketagihan nikotin pada tikus. Setelah mengetahui keberadaan Amigo1 dan efeknya bagi tubuh, Ibanez-Tallon dan rekan-rekannya lantas berharap kalau memanipulasi Amigo1 bisa menjadi jawaban untuk menghentikan ketagihan merokok pada manusia.
