Bernas.id – Menuliskan nama sendiri di tembok atau pohon merupakan kebiasaan yang lumrah dilakukan oleh seseorang jika ingin meninggalkan semacam kenang-kenangan. Simon Bramhall nampaknya merasa kalau objek tersebut sudah terlalu umum. Sayang pilihan objek yang ia gunakan untuk menaruh namanya sendiri nampaknya sudah melampaui batas.
Bramhall adalah pria asal Inggris yang sehari-harinya berprofesi sebagai dokter bedah di Rumah Sakit Ratu Elizabeth, Birmingham. Tahun 2013, saat ia dipercaya untuk membedah sejumlah pasien, ia nekat membuat tulisan SB – inisial dari nama sang dokter – pada organ hati dua orang pasiennya.
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021
Bramhall menjalankan aksi gilanya tersebut dengan memakai sinar argon, zat yang lazimnya digunakan untuk membuat pola pada organ tubuh yang hendak dibedah. Zat tersebut diketahui tidak bersifat racun dan normalnya akan menghilang dengan sendirinya secara alamiah.
Tindakan Bramhall tersebut diketahui oleh koleganya saat ia menjalankan operasi susulan pada pasien yang sebelumnya dibedah oleh Bramhall. Pihak rumah sakit lantas mencopot Bramhall dari posisi penasihat bedah. Setahun berikutnya, pria berusia 53 tahun tersebut memutuskan untuk mengundurkan diri.
Namun keputusan Bramhall untuk mundur dari rumah sakit tidak lantas membuat kasusnya usai. Pasalnya kini ia harus menjalani sidang di pengadilan Birmingham atas tuduhan malpraktik. Rencananya vonis akhir atas dirinya baru akan dijatuhkan pada tanggal 12 Januari mendatang.
Kendati tindakan yang dilakukan oleh Bramhall tersebut menuai kritikan dari rekan-rekan seprofesinya, tidak semua orang merasa kalau Bramhall pantas dihukum berat. Tracy Scriven adalah salah satunya. Bekas pasien Bramhall tersebut merasa kalau Bramhall pantas diberikan kesempatan kedua karena Bramhall pernah menyelamatkan nyawanya.
Baca juga:
