YOGYAKARTA, BERNAS.ID — Industri pariwisata di Yogyakarta mengkhawatirkan adanya kebijakan peningkatan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ke level 3 saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), yang bakal berdampak pada tertahannya pergerakan wisatawan.
Meski begitu, pelaku wisata menilai kebijakan yang berubah-ubah sudah biasa mereka hadapi, dan langkah tersebut diakui penting sebagai upaya mencegah penyebaran COVID-19.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan industri wisata, sudah sering menerima kebijakan yang berubah-ubah. “Kami sudah terlalu biasa digitukan Pemerintah. Kalau melihat reservasi masih tinggi, tetapi masih wait and see juga. Artinya ya ada kekhawatiran,” kata Deddy, Kamis (18/11/2021).
Baca juga: PHRI DIY Beri Peringatan Pelaku Usaha Pelanggar Aturan PPKM
“Kami melihat bagaimana edaran dari Pemerintah itu. Level 3 nanti seperti apa, apakah wisata tetap boleh atau tidak boleh,” sambung Deddy.
Dia mengharapkan wisata tetap diperbolehkan beroperasi selama momen Nataru, dengan penerapan prokes yang ketat. Sehingga antara sektor kesehatan dan ekonomi dapat berjalan berdampingan.
“Terpenting adalah prokes ketat itu, yang tidak sesuai prokes tidak diperbolehkan. Harapan kami ekonomi dan kesehatan berjalan beriringan,” kata dia.
Baca juga: Pentingnya Strategi Bisnis Kepariwisataan yang Adaptif di Masa Pandemi
Sementara itu, Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY, Hery Setyawan mengatakan kebijakan ini mungkin akan memberatkan pelaku wisata. Tapi di sisi lain, dirinya mencoba melihat upaya ini agar tidak terjadi lonjakan kasus pada akhir tahun nanti.
“Kalau kita lolos tidak ada ledakan kasus, bisa turun drastis. Industri bisa terus berjalan dan masuk proses recovery. Kalau tidak dibatasi khawatirnya, akan ada lonjakan kasus baru. Ini bahaya. Sumber daya kita sudah habis, kalau tidak hati-hati akan lebih banyak buruknya,” kata Hery.
Dampak dari peningkatan level PPKM ke level 3 nanti, dinilai Hery belum signifikan terlihat pengaruhnya. “Kalau yang membatalkan rencana belum, karena rata-rata mereka booking waktunya dekat dengan waktu jalan. Mungkin akan menurunkan minat untuk wisatawan melakukan perjalanan iya,” jelas dia. (den)
