BERNAS.ID – Jika berbicara tentang nanoteknologi, maka tidak bisa dilepaskan dari sosok yang tak pernah berhenti menggaungkannya, yakni Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng, Ph.D.
Pria kelahiran Malang pada 1970 silam ini telah menempuh pendidikan di Jepang mulai dari S1 hingga S3. Dia juga sempat bekerja di sana, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke Tanah Air. Kini ia mengembangkan nanoteknologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI, sekaligus menjadi pembina di Nano Center Indonesia.
Kiprahnya di bidang sains dan teknologi, terutama nanoteknologi sudah banyak diakui oleh berbagai negara di dunia. Meski begitu, ia ingin terus menularkan ilmunya kepada generasi muda yang kelak akan memimpin bangsa.
Baca Juga: Endah Saraswati, Seniman Multitalenta yang Sukses Populerkan Campursari
Jadi ketika Indonesia kelak menjadi negara maju, para generasi muda telah dibekali dengan rasa cinta terhadap sains dan teknologi yang harus bermanfaat.
Menjadi ilmuwan yang bukan sekadar hanya teori, karena nanoteknologi dan sumber daya alam Tanah Air yang besar akan membawa Indonesia menjadi negara dengan perekonomian yang kuat.
Lalu, bagaimana kisah Profesor Nurul dalam mengembangkan kecintaannya terhadap sains dan teknologi? Apa keyakinannya terkait nanoteknologi yang akan mengubah masa depan dunia?
Sejak Kecil Presisi Mengatur Waktu
Nurul lahir dan besar di Malang, Jawa Timur. Ia berasal dari keluarga yang sederhana dan terbiasa bekerja keras sejak kecil. Ibunya merupakan seorang guru, yang juga sambilan dengan berjualan gorengan dan es lilin. Kegiatannya membantu orangtua untuk melakukan pekerjaan rumah dan jualan memicu Nurul untuk berpikir kreatif.
Nurul kecil pada akhirnya terbiasa untuk mengatur waktu secara presisi, termasuk seberapa stamina atau kekuatan yang ia butuhkan ketika membantu pekerjaan di rumah.
“Jadi saya punya presisi mengelola waktu. Saya tahu nih, misal saya harus pulang untuk masak nasi. Kemudian sudah saya hitung, mulai dari masak nasi, butuh setengah jam,” katanya kepada Bernas.id.
“Kalau nggak, maka (nasi) akan gosong, sehingga apinya harus mati. Jadi ide-ide itu berkembang sejak saya masih kecil,” lanjutnya.
Dia dibesarkan dalam lingkungan yang mengenyam pendidikan sehingga ia bisa memahami berbagai ilmu pengetahuan. Mulai dari SD, dia sering melihat foto-foto ilmuwan besar. Suatu ketika, ia mempelajari rumus Fisikawan Albert Einstein yang menjelaskan kaitan massa dan energi, atau dikenal dengan rumus E=MC2.
Baca Juga: Kisah Irma Sustika, Buktikan Perempuan Indonesia Bisa Berdaya secara Ekonomi
Meski secara matematis terkesan sederhana, menurut Nurul, rumus tersebut telah mampu mengubah dunia yang memberi dampak luar biasa bagi kehidupan manusia.
“Sehingga sejak kecil, saya punya cita-cita ingin menguasai sains dan teknologi, menerapkannya untuk ikut berkontribusi dalam peradaban manusia dan kemanusiaan,” ujarnya.
Pak Habibie dan Kisah di Jepang
Singkat cerita, Nurul harus menentukan ke mana langkah selanjutnya ketika ia lulus SMA. Tentu ia tidak melepaskan impiannya untuk menjadi ilmuwan di bidang sains dan teknologi.
Sempat diterima di Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB), nyatanya kecerdasan Nurul membawanya untuk sekolah di Jepang melalui program BJ Habibie, seorang profesor, ilmuwan, dan pernah memimpin Indonesia.
Science and Technology Man Power Development Program yang kedua atau STMPD II, sebuah program peningkatan kapasitas atau kemampuan sumber daya manusia dengan menempuh pendidikan di luar negeri.
Ia begitu ingat perkataan Habibie ketika menyambutnya beserta rombongan yang baru saja mendarat di Jepang pada 1990.
“Beliau mengatakan kepada kami 'Orang-orang Indonesia ini menganggap bahwa ke Jepang untuk curi teknologi Jepang, kemudian baru balik ke Indonesia',” ucapnya ketika meniru perkataan Bapak Teknologi Indonesia itu.
“Dikiranya kita disuruh mencuri teknologi, kata Pak Habibie 'Itu orang nggak mengerti, jangankan mencuri, dikasih saja kita nggak siap',” tuturnya.
Nurul memahami telah terjadi kesenjangan yang sangat lebar antara orang Jepang dan orang Indonesia dalam hal kapasitas SDM sehingga perlu ditingkatkan secara terus menerus.
Dengan sekolah di Jepang dan menguasai bahasanya, maka bisa mempelajari teknologi lebih mendalam lagi. Nurul memang belajar bahasa Jepang, meski awal tidak menguasainya 100%.
“Makanya mencuri itu lucu, bahasanya saja kita nggak mengerti, jadi bagaimana mencurinya,” ucap Nurul.
“Ini artinya bahwa memang Pak Habibie juga jadi bapak ideologis karena mengubah pemikiran kita yang menjadi scientist,” imbuhnya.
Di Negeri Sakura, Nurul menyelesaikan kuliah di Universitas Kagoshima di bidang Teknik Mesin dengan penjuruan Teknik Material dan Rekayasa Produksi. Dia lulus S1 pada 1995, S2 pada 1997, dan S3 pada 2000, masing-masing dengan predikat cum laude.
Baca Juga: Kisah Julius Widiantoro, Anak Desa yang Menjelma Jadi Brand Strategist Merek Kenamaan
Tak hanya merampungkan studi, ia juga bekerja sebagai konsultan riset dan pengembangan di bidang industri, kemudian selama tiga tahun bekerja di Pusat Penelitian Daerah Jepang sebagai peneliti istimewa.
Selama bekerja, ia mampu mengungguli rekan-rekannya yang merupakan orang jepang. Produktivitasnya bisa dua hingga tiga lipat dibandingkan yang lain.
“Ketika saya bekerja, saya juga ingin mengetahui budaya Jepang supaya bisa saya tularkan, membangun budaya disiplin dan profesional,” katanya.
“Selama 4 tahun bekerja, kinerja saya bisa dua sampai tiga kali lipat dibanding kinerja orang-orang Jepang lain,” ujarnya.
Bagaimana tidak, selama menjadi penasihat pada Proyek Konsorsium Daerah di Khusyu pada 2002-2003, ia telah mempublikasikan 15 paten dan Hak Cipta. Ada lebih dari 100 publikasi dan makalah internasional yang diterbitkan. Selain itu, juga ada 180 publikasi dan pemakalah nasional yang ia buat.
“Di akhir-akhir ketika perpisahan, para pimpinan memberikan speech tentang saya. Beliau menyampaikan kalau dengan kehadiran saya itu men-trigger mereka,” katanya.
“Kan Nurul orang dari indonesia, kita kan negara berkembang tapi justru memberi semangat kerja,” ucap Nurul ketika menceritakan kisah perpisahannya dengan tempatnya bekerja di Jepang.
Ada satu pesan lagi yang begitu melekat di hati Nurul dari pimpinannya ketika itu, yakni memulai segalanya dari hal-hal kecil. Dari situ maka akan menciptakan kesuksesan besar di kemudian hari.
“Karena impian besar itu abstrak kan jadi harus bisa mendetailkan kemudian dibagi dalam tahapan-tahapan yang mudah dijangkau, jadi setiap saat bisa meraih kesuksesan itu,” katanya.
Selamat Datang di Era Nanoteknologi
Sebagian besar orang awam masih sangat asing dengan nanoteknologi, padahal manfaatnya besar. Nanoteknologi adalah teknologi pada skala nanometer.
Secara sains, para ilmuwan dan industriawan memandang nanoteknologi akan mengguncang revolusi industri, bahkan bersifat destruktif terhadap teknologi saat ini.
“Ini akan mengubah wajah dunia, mulai dari consumer good dan kebutuhan industri. Produk-produk yang diminati kemudian akan bergeser ke produk nano, yang akan mengubah industri dunia dan peradaban manusia,” jelasnya.
Baca Juga: Kelik Pelipur Lara, Melawak Sejak SD hingga Sukses Jadi Wakil Presiden Republik BBM
Kenyataannya, penguasaan nanoteknologi tidaklah mudah. Padahal, Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan alam bisa mengambil manfaat uang lebih besar ketimbang negara maju lainnya.
Dengan sedikit saja pengembangan nanoteknologi, negara diyakini bisa memperoleh manfaat yang luar biasa, bahkan secara ekonomi berpotensi memimpin dunia.
“Dari dulu saya paham bahwa kita negara kaya. Dengan teknologi nano, kita bisa memimpin dunia sehingga saya fokusnya ke sini (nanoteknologi),” ujarnya.
Nanoteknologi mampu memberi nilai tambah pada SDA di Tanah Air. Misalkan saja, kunyit yang harga jualnya hanya ribuan rupiah bisa menjadi jutaan apabila dikelola dengan nanoteknologi.
Meski begitu, pemerintah tidak perlu mengucurkan dana besar-besaran untuk mengembangkan teknologi ini. Apalagi, Indonesia masih terus dalam proses pembangunan infrastruktur agar lebih merata.
“Kita jangan ikutan untuk mengembangkan teknologi dengan infrastruktur dan biaya yang besar,” katanya.
“Yang bisa kita kuasai sekarang adalah memaksimalkan ekonomi kita dan pendanaan yang kita miliki untuk mendapatkan teknologi yang bisa memberikan nilai tambah yang besar terhadap sumber daya alam dengan teknologi nano,” jelasnya.
Ilmuwan Muda Penerus Bangsa
Kini, Nurul juga berfokus dalam mengembangkan kemampuan generasi muda yang tertarik menjadi ilmuwan terutama di bidang nanoteknologi.
Dia begitu senang melihat anak-anak muda yang antusias terhadap sains dan teknologi. Terbukti dengan sebanyak 160 orang berusia di bawah 30 tahun di Nano Center Indonesia.
Belum lagi, calon ilmuwan yang juga melakukan riset di LIPI. Dia sungguh berharap kepada mereka agar kelak memimpin bangsa, apalagi Indonesia pada usia 100 tahun diprediksi menjadi negara maju.
Baca Juga: Cerita Tony Sukentro: Dokter Bedah Seperti Tentara, Harus Siap Kapan Pun
“Memang negara Indonesia akan maju, tapi milik siapa? Saya mengimbau kepada milenial untuk menyadari tentang positioning ini, karena mereka yang akan memimpin bangsa pada saatnya,” jelasnya.
Nurul dan rekan-rekan ilmuwan lainnya ingin menciptakan generasi yang mencintai sains dan teknologi yang dapat bermanfaat sehingga bukan berakhir menjadi teori saja.
“Thomas Alva Edison pernah bilang, 'Saya tidak mau melakukan penelitian atau pengembangan kalau barang ini tidak bisa dijual. Penjualan adalah bukti pemanfaatan. Pemanfaatan adalah bukti kesuksesan',” tutur Nurul.
