SLEMAN, BERNAS.ID – Pada tanggal 20 Juli nanti, umat Islam akan melaksanakan ibadah kurban di masa pandemi. Perlu dilakukan strategi agar tidak menimbulkan kerumunan saat penyembelihan hewan kurban.
Untuk itu, Fakultas Peternakan UGM melalui Halal Research Center membagikan teknik penyembelihan hewan qurban yang halal dengan tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) Covid-19.
Direktur Halal Research Center Fakultas Peternakan UGM sekaligus dosen Fakultas Peternakan UGM, Ir Nanung Danar Dono menyampaikan, beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi kerumunan saat penyembelihan hewan kurban.
Yang pertama, Nanung menyebut untuk membatasi atau mengurangi jumlah panitia qurban yang terlibat. Pengurus takmir masjid berwenang menentukan jumlah panitia.
Kedua, Nanung menyebut untuk membatasi atau mengurangi jumlah ternak yang disembelih di lokasi. Hewan qurban yang tidak dapat disembelih di masjid dapat dititipkan kepada lembaga AMIL yang amanah untuk dikirim ke daerah atau negara lain yang lebih membutuhkan.
Baca Juga Plastik Berperekat Solusi Aman Pengemasan Daging Kurban
Ketiga, Nanung menyarankan untuk membagi waktu penyembelihan menjadi 3-4 hari. Panitia dapat memanfaatkan kesempatan menyembelih di Hari Tasyrik. Keempat, ia menyarankan membagi lokasi penyembelihan menjadi 3-4 tempat, misal lokasi penyembelihan dapat dibagi per wilayah RT.
“Panitia kurban juga harus menyediakan air dan sabun dan atau hand sanitizer secara cukup,” paparnya dalam Pelatihan Penyembelihan Hewan Qurban yang diselenggarakan secara daring.
Selain itu, lanjut Nanung, sohibul qurban tidak harus hadir di lokasi penyembelihan. Shohibul Qurban dapat menyaksikan penyembelihan secara online, melalui ZOOM, Webex, Google Meet, YouTube, atau media lainnya. “Jika lokasi penyembelihan termasuk zona merah atau hitam, pilihan terbaik adalah hewan disembelih di rumah potong hewan resmi milik pemerintah,” tuturnya.
Penanganan Daging Kurban
Sementara, Prof Dr Ir Nurliyani menyampaikan terkait penanganan daging kurban. Setelah dilakukan penyembelihan, perlu diperhatikan agar terjaga kebersihan daging kurbannya. “Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam penanganan daging kurban, yaitu aspek higiene makanan, aspek petugas, dan aspek peralatan,” tuturnya.
Dari aspek higiene makanan, hindari tangan manusia yang kontak langsung dengan daging, hindari lalat, dan serangga lainnya, dan hindari peralatan yang kontak dengan daging (pisau, talenan, alas, dan meja). Disamping itu, hindari air yang kotor, lantai/tanah dan alas yang kotor.
Dari aspek petugas, orang yang bertugas memotong daging harus menjaga kebersihan diri dan sering mencuci tangan. Selain itu, petugas harus menjaga lingkungan sekitar pemrosesan daging qurban. Tak hanya itu, petugas harus mengenakan alat pelindung diri yang berbeda-beda tergantung dari kewajibannya. Petugas di area kotor harus memakai masker, sepatu boots, kacamata goggle atau face shield dan sarung tangan sekali pakai. Petugas di area bersih menggunakan masker, penutup kepala, face shield, sarung tangan, celemek pelindung (apron) dan alas kaki.
Berikutnya, dari aspek peralatan, alat yang digunakan harus bersih dan memenuhi syarat teknis higiene dan sanitasi, yaitu terbuat dari bahan yang tidak mencemari daging. Hindari penggunaan plastik hitam daur ulang karena elastisitasnya sangat berbeda dengan plastik bening yang masih bagus.
“Apabila kemasan yang digunakan untuk membungkus daging berupa plastik daur ulang yang mengandung bahan kimia berbahaya, dikhawatirkan dapat mengubah kualitas daging. Panitia lebih disarankan membungkus daging yang akan dibagikan dengan kantong plastik bening atau besek,” pungkasnya. (jat)
