Oleh: HJ Sriyanto
Guru SMA Kolese de Britto
Co-Founder Rumah Matematika
Kalau anda guru matematika, pasti tahu bagaimana rasanya membelajarkan matematika di kelas Bahasa. Nah, apalagi ini membelajarkan matematika di kelas Bahasa pada jam ketujuh alias jam terakhir. Bisa dibayangkan apa yang terjadi.
Tahun ajaran ini saya memperoleh kesempatan, tepatnya memilih kesempatan untuk mengajarkan matematika di kelas XI Bahasa. Ada beberapa alasan mengapa saya ingin mengajar matematika di kelas Bahasa. Selama lima belas tahun mengajar, saya belum pernah mengajar matematika di kelas Bahasa. Saya ingin mengalami bagaimana mengajar matematika di kelas Bahasa sehingga kalau saya mati tidak lagi penasaran.
Banyak orang menganggap anak bahasa tidak bisa matematika. Saya tertantang seberapa saya bernyali mengajarkan matematika pada anak-anak yang katanya tidak bisa itu. Alasan berikutnya, saya akan bisa berdalih kalau seandainya saya gagal mengajarkan matematika di sana. Bukankah alas an murid tidak bias merupakan alasan yang paling baik dan masuk akal untuk menutupi ketidakmampuan guru?
Dengan sangat heroik di hari pertama jadwal mengajar saya di kelas Bahasa, saya masuk kelas. Sepi. Hanya ada beberapa siswa dari sejumlah siswa kelas Bahasa yang tidak seberapa itu. Tanda awal yang seolah membenarkan persepsi bahwa anak bahasa tidak suka matematika. Setelah menunggu beberapa waktu satu dua siswa secara bergantian masuk kelas dengan berbagai alasan tentu saja. Baiklah, aku rapopo.
Pada awal-awal pembelajaran matematika saya tidak langsung membahas materi pelajaran. Saya hanya ingin tahu bagaimana anak-anak bahasa memandang pelajaran matematika. Saya minta mereka bercerita tentang matematika dari sudut pandang mereka.Yups! Sepertinya semua orang sudah tahu jawabannya. Sebagian besar siswa tidak suka bahkan ada yang takut dengan matematika. Meskipun begitu tetap ada secercah harapan. Ada satu dua siswa yang menunjukkan minatnya terhadap matematika.
Pertemuan berikutnya saya minta siswa menonton videonya Sujiwo Tejo ?Math ? Finding Harmony in Chaos? yang bias diunduh dari youtube. Mereka saya minta membuat esai pendek sebagai tanggapan atas isi video tersebut. ?Merombak pemahaman dasar matematika?, ?Matematika bukan ilmu pasti?, ?Matematika sebagai bahasa? adalah beberapa judul esai siswa yang lahir dari menonton video tersebut. Kami pun mendiskusikan isi video inspiratif dari Presiden Jancuker tersebut di kelas. Mulai muncul pemahaman baru tentang matematika. Seperti diungkapkan Donlo misalnya. ?Setelah menonton video singkat tersebut, pikiran saya terhadap matematika menjadi berubah. Saya kembali sadar bahwa matematika itu sungguh mengasah logika saya. Salah satu persepsi saya yang salah mengenai matematika adalah bahwa matematika itu sebuah ilmu pasti. Padahal, matematika itu adalah sebuah kesepakatan.?
Pertemuan selanjutnya kami mulai mendiskusikan apa untungnya belajar matematika? Apa yang ingin siswa dapatkan dari belajar matematika? Kami merumuskan tujuan dan target belajar matematika di kelas Bahasa secara bersama-sama. Kami sepakat bahwa matematika dapat membantu siswa untuk berpikir logis, sistematis, kritis dan kreatif yang sungguh dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar matematika merupakan proses untuk mengasah kemampuan berlogika, kemampuan berpikir kritis dan kreatif yang sesungguhnya sangat penting bagi siswa kelas Bahasa. Oleh karena itu, proses pembelajaran matematika di kelas Bahasa akan lebih diarahkan dan ditekankan pada kemampuan-kemampuan tersebut.
Hebatnya lagi, siswa mengusulkan agar juga mempelajari materi-materi matematika yang dipelajari siswa di kelas Sosial yang tidak diajarkan di kelas Bahasa. Diam-diam mereka sudah menyusun siasat agar jika waktunya tiba nanti bisa berkompetisi dengan anak-anak dari jurusan lain dalam seleksi masuk perguruan tinggi.
Pada bagian-bagian awal pelajaran statistika, saya meminta siswa untuk membaca modul belajar yang sudah saya persiapkan sebelumnya. Setelah selesai membaca, saya mengajukan beberapa pertanyaan, namun tak ada jawab. Saya pun terpaksa menjawab sendiri pertanyaan saya dan menjelaskan materi pelajaran tersebut.
Saya menangkap kesan, kalau metode pembelajarannya seperti ini, siswa akan cenderung pasif, tidak mau terlibat. Dan ini sejalan dengan yang dijelaskan dalam ?kerucut pembelajaran? bahwa siswa hanya mengingat 10% dari apa yang dibaca, dan 20% dari apa yang didengar. Oleh karena itu saya mencoba mencari metode lain agar siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan sekaligus memberi sumbangan pemahaman terhadap materi yang mendalam.
Muncullah ide belajar dengan cara praktik: menguji hipotesis sederhana. Saya mengajukan beberapa hipotesis sederhana dan siswa saya minta untuk menguji hipotesis tersebut. Untuk bias menguji hipotesis sederhana tersebut siswa harus melakukan pengukuran untuk memperoleh data. Dan kelas pun menjadi lebih ?hidup? dengan aktivitas siswa melakukan berbagai pengukuran. Saya membebaskan mereka dalam melakukan pengukuran, baik alat yang digunakan maupun caranya.
Dalam beberapa kali kesempatan pembelajaran saya mengamati ketika sedang mengerjakan entah mengukur, menghitung, atau mengerjakan soal matematika, siswa-siswa kelas Bahasa sering melakukannya sambil menyanyi bersahut-sahutan. Ah, untung saja Howard Gardner mengajari tentang multiple intelegence. Jadi, alih-alih melarang, saya malah ikut menikmati celoteh nyanyi mereka. Tentu saja mereka bolah-boleh saja mengerjakan soal-soal matematika sambil bernyanyi, tapi pekerjaan beres hal yang tak bias ditawar.
Godaan pelajaran matematika jam ketujuh di kelas Bahasa adalah siswa dengan berbagai cara merayu mengajak nonton film. Dan kadang sebenarnya saya tergoda juga, apalagi kalau dari pagi mengajar penuh, hanya jeda pada saat jam istirahat saja. Tapi tetap saja bukan tanpa syarat. Film harus yang ada hubungannya dengan matematika.
Tampaknya syarat itu tidak menyurutkan niat mereka mengajak saya nonton film pada pelajaran matematika jam ketujuh. Mereka sungguh-sungguh mencoba mencari film yang ada hubungannya dengan matematika, setidaknya mencoba menghubung-hubungkannya dengan matematika. Hingga suatu ketika saya mengizinkan mereka memutar film sambil menonton dan tetap mengerjakan soal matematika.
Bukankah kita juga sering kali belajar sambil nonton TV? Dan tidak lupa syarat tambahan, jika tidak selesai, siswa harus mengerjakan di rumah untuk dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Hebatnya, anak-anak ini memiliki komitmen yang tinggi. Mereka mengumpulkan jawaban pada pertemuan selanjutnya. Begitulah sebagai guru, kadang kita harus masuk melalui pintu mereka namun keluar melalui pintu kita.
