JOGJA, HarianBernas.com – Menjelang Tahun Baru Imlek, ratusan warga Tionghoa Jogja menghadiri Sembahyang Bersama di Klenteng Tjen Lin Kiong atau Klenteng Poncowinatan, Sabtu (6/2). Prosesi sembahyang bersama di Klenteng Poncowinatan dimulai pukul 11.15 WIB. Warga Tionghoa yang didominasi warga usia lanjut mengikuti prosesi sembahyang dengan khidmat dipimpin Wenshi atau pendeta muda (Konghucu), Adjie Chandra.
Sembahyang bersama dimulai dengan pemukulan bedug dan lonceng, dilanjutkan dengan penghormatan pada Tuhan YME, lalu penghormatan pada dewa-dewa. Sembahyang bersama memiliki makna sebagai ucapan syukur pada Tuhan karena bisa menjalani tahun 2566 yang berada di bawah shio Kambing dengan baik, juga sebagai harapan agar seluruh warga klenteng, dan warga Jogja umumnya bisa melewati kehidupan yang lebih baik di tahun Kera Api.
Usai prosesi sembahyang, dilanjutkan dengan potong tumpeng dan makan bersama dalam suasana penuh kekeluargaan. ?Tahun baru bukan pakaiannya yang baru, rumah atau pun lainnya yang baru, akan tetapi semangatnya yang harus baru,? tegas Adjie yang bernama Tionghoa Go Djien Tjoan.
Adjie yang rutin memimpin sembahyang bersama di klenteng Poncowinatan mengatakan, Tahun Kera Api memiliki arti khusus.
?Kera merupakan hewan paling pandai di antara 12 hewan dalam kalender Tionghoa, sedangkan api melambangkan kobaran semangat yang menggebu. Sehingga tahun 2016 diharapkan akan muncul pemimpin-pemimpin yang cerdik dengan semangat menggebu untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik,? ujarnya saat ditemui wartawan di sela persiapan memimpin doa.
Di Tionghoa, lanjutnya, kera api disimbolkan lewat kera sakti, sedangkan dalam pewayangan ada Hanoman warna putih melambangkan kesucian. ?Di beberapa daerah Sun Go Kong disandingkan dengan Hanoman,? jelasnya.
Mengenai umat yang mengikuti prosesi sembahyang rata-rata berusia lanjut, jelasnya, terjadi karena macetnya regenerasi semasa Orde Baru. ?Dulu semuanya tidak boleh, jadi regenerasinya mandeg. Saat diperbolehkan kembali, sudah terlanjur banyak generasi muda yang enggan ke Klenteng,? tambahnya.
Sementara mewakili Pembina Klenteng Poncowinatan Anwar Santoso, Gutama Fantoni menyebutkan banyak pihak menunjukkan kepedulian tinggi pada Klenteng Poncowinatan diantaranya Anwar Santoso pendiri Yayasan Bhakti Loka yang sudah aktif dalam berbagai event di Klenteng sejak 40 tahun lalu.
?Kini di usia yang hampir 100 tahun, pak Anwar Santoso masih terhitung sehat dan selalu menyempatkan diri hadir dalam perayaan Imlek di Klenteng,? papar Fantoni sambil memberi hormat pada Anwar Santoso yang duduk di kursi roda.
Kemudian elemen lain pendukung Klenteng Poncowinatan adalah MAKIN atau Majelis Agama Konghucu Indonesia, Tao, juga keluarga Chandra Gunawan yang menunggu dan merawat klenteng, serta Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) yang secara rutin setiap Tiongciu yang bertepatan di Bulan Purnama (sekitar September) menggelar even budaya di Klenteng Poncowinatan.
