HarianBernas.com – Kalimat yang benar itu “Revitalisasi Kehidupan Berbudaya”, bukan “Pelestarian Kebudayaan”. Hal itu dikatakan oleh RM. Aries Nandarika, SE, pemerhati budaya dan pemangku lembaga pendidikan agama dan kebudayaan Padepokan Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat.
Bahkan menurut Ki Puspo, demikian panggilan akrabnya, kalimat pelestarian kebudayaan bisa menyesatkan karena hanya menempatkan budaya sebagai obyek.
Tokoh spiritual yang telah melakoni perjalanan ke ribuan makam dan petilasan bersejarah ini menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai, norma dan etika budaya dalam kehidupan masyarakat nyata dibandingkan dengan kegiatan promosi seni, upacara adat dan sebagainya. Intensitas dan frekuensi aktivitas seni budaya dirasa tidak menyentuh esensi kebudayaan sebagai sistem kehidupan.
Bagaimana mengembalikan sistem yang hidup itu? Menurut Ki Puspo, masyarakat perlu menyentuh aspek “intangible” dari kebudayaan. Bukan sekedar menganggap kebudayaan sebagai akitivitas yang kasat mata (tangible). Jika semata menjadikan budaya sebagai obyek yang dilestarikan berakibat tidak adanya dampak positif bagi peningkatan mental dan moralitas.
Barangkali melalui penggunaan kalimat yang benar, maka akan menjadi awal dari sebuah gerakan yang benar. Dalam rumusan spiritual dikatakan bahwa kata atau kalimat itu mengandung sifat tertentu. Sifat itu akan menjadi sebuah gerak yang mewujudkannya dalam kehidupan. Kalimat revitalisasi kehidupan berbudaya akan menyadarkan pentingnya menggairahkan kembali sistem nilai, norma dan etika secara nyata. Bukan kegiatan seremonial yang cenderung palsu dan artifisial.
