TUBAN, HarianBernas.com – Akibat luapan Avour Kuwu, beberapa sawah petani di wilayah Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, terkena dampak banjir. Akibatnya, mereka harus melakukan panen dini tanaman padi yang mereka tanam.
Tentu saja, kualitas padi yang dipanen dini tidak sebagus bila dipanen pada waktunya. Anjloknya harga pun tidak bisa dihindari. Hal ini terjadi pada Kamis (3/3).
Biasanya harga Gabah Kering Panen (GKP), bila masih baru dan kualitasnya bagus, harganya berkisar Rp3.300. Namun, akibat panen dini, harganya turun cukup banyak dan membuat petani rugi.
“Sekarang ini gabahnya hanya laku dua ribu rupiah perkilonya. Harganya turun banyak sekali,” ujar Sa'i (49), yang merupakan salah satu petani asal Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban.
Mau tidak mau, para petani menjual gabah yang sudah terendam air banjir ini. Warnanya yang sudah kuning, dan beberapa sudah mengalami pembusukan, dijual untuk menghidupi keluarga mereka. Banjir akibat luapan Avour Kuwu, yang mengakibatkan petani rugi besar.
“Ini kita ya rugi besar mas, selain harganya merosot ini, hasil panen juga berkurang. Karena banyak yang rusak, biasanya saya bisa dapat dua ton. Tapi karena banjir ini tinggal satu setengah ton,” ujar Sa'i, saat ditemui oleh wartawan.
Pemerintah Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban mengatakan, bahwa akibat banjir ini, ratusan hektar sawah terpaksa panen dini. Dampak dari luapan Avour Kuwu ini, pada tahun 2016 memiliki dampak terbesar dibanding tahun sebelumnya.
“Awal saya di Plumpang satu tahun lalu di sini yang terdampak itu kurang lebih sekitar 280 hektar, tetapi sekarang ini datanya ada 375 hektar. Kalau kita hitung rata-rata saja kerugian melebihi sekitar lima miliar rupiah setiap tahun,” tutur Sudarmaji, yang merupakan Camat Plumpang, Kabupaten Tuban.
