SLEMAN, BERNAS.ID – Persoalan sampah rumah tangga kian menjadi tantangan di berbagai daerah. Namun di Padukuhan Minggiran, Desa Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Sleman, masyarakat mulai melihat sampah dari sudut pandang berbeda: bukan lagi sebagai limbah, melainkan sumber energi yang bernilai ekonomi.
Melalui program pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang dilaksanakan pada Rabu (1/4/2026).
Sebanyak 20 anggota Sekolah Jumat Putri Mandiri mendapatkan pendampingan langsung untuk mengolah sampah daun menjadi briket ramah lingkungan sebagai bahan bakar alternatif.
Baca Juga : DPRD DKI Tinjau RDF Rorotan, Pastikan Anggaran Triliunan Maksimalkan Pengolahan Sampah
Program ini diketuai oleh Berli Paripurna Kamiel dari Fakultas Teknik UMY, dengan anggota tim Endah Saptutyningsih dari Fakultas Ekonomi.
Sebelumnya, masyarakat telah memiliki mesin briket, namun pemanfaatannya belum optimal karena tingginya konsumsi listrik.
Menjawab persoalan tersebut, tim UMY menghadirkan solusi berupa penggunaan mesin diesel sebagai sumber energi alternatif yang lebih efisien dan fleksibel .
Ketua pelaksana kegiatan, Berli Paripurna Kamiel, menegaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya bisa mengolah sampah, tetapi juga memiliki keterampilan yang berkelanjutan sehingga bisa mandiri dan bahkan membuka peluang ekonomi dari limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai,” ujarnya.
Selama kegiatan, peserta dilatih secara langsung mulai dari pemilahan sampah organik, pengeringan daun, proses karbonisasi, hingga pencetakan briket menggunakan mesin.
Pendekatan partisipatif membuat seluruh peserta terlibat aktif sehingga mampu memahami dan mempraktikkan proses tersebut secara mandiri.
Selain itu, warga juga dibekali pengetahuan tentang pengoperasian mesin, perawatan, serta aspek keselamatan kerja agar kegiatan dapat terus berlanjut.
Ketua mitra Sekolah Jumat Putri Mandiri, Endah Prihandayani, mengaku program ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kami sangat terbantu dengan pendampingan dari tim UMY. Sekarang kami tidak hanya membuang sampah daun, tetapi bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ungkapnya.
Baca Juga : Fapet UGM Dorong Pengelolaan Sampah Mandiri Melalui Pendekatan Ekonomi Sirkular
“Harapannya kegiatan ini bisa terus berjalan dan bahkan berkembang menjadi usaha bagi warga,” imbuhnya.
Program ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis teknologi sederhana dapat menjadi solusi nyata bagi permasalahan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi.
Dengan konsep ekonomi sirkular, limbah daun yang sebelumnya terbuang kini dapat diolah menjadi sumber energi alternatif yang bermanfaat.
Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengelola sampah secara produktif dan berkelanjutan. (*/cdr)
