YOGYAKARTA, HarianBernas.com — Pada tanggal 12-14 Mei, Herry Zudianto, Ketua Panitia Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah mengungkapkan 500 pelaku usaha anggota Saudagar Muhammadiyah akan bertemu di Yogyakarta. Agar tetap menjadi organisasi yang mandiri dan independen dari berbagai kepentingan politik, Muhammadiyah harus mampu membiayai dirinya sendiri, Kamis (29/4).
“Pertemuan itu bertujuan memperkuat peran Muhammadiyah dalam membangun bangsa, bukan hanya melalui amal usaha pendidikan dan kesehatan saja, namun juga di sektor ekonomi,” kata Herry Zudianto di Yogyakarta.
Herry menyatakan harapannya bahwa dengan pertemuan saudagar bersamaan Rapat Kerja Nasional Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammdiyah bisa memposisikan lagi peran para saudagar sebagai salah satu unsur soko guru pendirian organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
Sampai sekarang ini, cukup banyak warga Muhammadiyah berhasil mengembangkan kegiatan bisnisnya, baik di lini industri, jasa, atau perniagaan. Tapi, para pelaku ekonomi ini masih berkecimpung dengan usaha bisnisnya sendiri-sendiri dan belum terkoordinasi secara maksimal. Dulu Muhammadiyah bisa berdiri karena infaq dan sadaqah, tapi kini cenderung turun, tambah Herry.
Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari rekomendasi Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar karena para pelaku usaha Muhammadiyah berhasil menggandeng para pelaku ekonomi kecil di sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk maju. Harapannya, Muhammadiyah akan bisa menyokong pertumbuhan ekonomi nasional.
Ketua Majelis Ekonomi Pengurus Wilayah Muhammadiyah DIY Ridwan mengatakan di Yogyakarta sudah banyak usaha di berbagai bidang yang berhasil dilakukan, misal BPR Syariah, Baituttamwil Muhammadiyah, PT.Buharum, PT.Surya Mediatama, serta PT.Gramasurya.
Ridwan mengakui, hanya saja pelaku usaha Muhammdiyah di Yogyakarta juga masih berjalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi yang maksimal untuk menguatkan organisasi itu.
Menurut Ketua Majelis Ekonomi, sejumlah topik yang akan dibicarakan, Peran ekonomi syariah sebagai salah satu opsi penyelesaian masalah bangsa, ekonomi regional sebagai penguat perekonomian nasional, serta revitalisasi aset ekonomi sebagai penguatan dakwah Muhammadiyah.
