HarianBernas.com – Dengan maraknya perkembangan gadget (laptop, tablet, dan HP andorid), dunia kepenulisan akan mengalami revolusi besar-besaran dari tahun ini hingga tahun-tahun ke depan apalagi didukung banyaknya fasilitas hotspot (wifi gratis) di tempat-tempat umum atau paket internet yang murah. Belum lagi ada kampanye “go green” atau “stop global warming” agar membatasi penebangan pohon-pohon untuk dijadikan kertas.
Artinya, kini masa depan penulis cerita cyber akan begitu cerah, gilang-gemilang, meski kemunculannya sering dicibir karena dianggap sebagai karya pelarian, karya yang ditolak editor dan redaktur, atau karya sampah yang dimasukkan tong sampah.
Baca juga: Teks Eksplanasi Adalah Kalimat Penjelasan, Benarkah? Ini Pengertian dan Ciri-cirinya!
Penulis cyber malah pernah dicap sebagai “penulis sampah” karena karya-karya dianggap karya yang ditolak media cetak atau penerbit. Menurut sastrawan, Saut Situmorang, Sastra Cyber merupakan proses metamorfosa tingkat lanjut dari media yang usang.
Keuntungannya, Tak Perlu Takut Ditolak Editor atau Redaktur
Kalau dulu orang menulis syair, pantun, balada tanpa melalui seorang editor atau redaktur maka jaman itu telah kembali lagi dengan tampilan versi digital yang lebih bagus. Kini, semua orang bisa menjadi penulis puisi, novel, drama, tanpa takut ditolak editor atau redaktur.
Kalau dulu orang menulis epos atau puisi di daun lontar atau kertas, kini orang menulis puisi di dunia maya atau versi digital. Inilah yang dimaksud dengan mengikuti perkembangan jaman, yaitu menggunakan media yang memang sedang dipakai saat itu juga. Tindakan ini tentu tidak salah.
Keuntungannya, Pembaca Adalah Penilaimu Bukan Editor atau Redaktur
Bagi para penulis cerita cyber tidak usah mencemaskan, apakah karyanya akan dianggap karya sastra atau bukan karena yang menjadikan karya disebut karya sastra atau bermutu adalah pembaca. Lalu, siapa yang membuat seorang penulis menjadi penulis bermutu? Jawabannya adalah pembaca.
Selama karya seorang penulis masih dinikmati,dibaca, didiskusikan dari waktu ke waktu maka karya itu telah menjadi karya sastra dan penulisnya menjadi penulis bermutu.
Sebenarnya, lolosnya sebuah karya dari tangan editor tidak menjamin bahwa sebuah karya memang berkualitas dan sukses. Dan sebaliknya, tidak lolosnya sebuah karya bukan berarti karya itu tidak berkualitas (Situmorang, 2004:62).
Contoh penulis yang sudah memulai langkah sebelum Indonesia ribut tentang sastra cyber adalah Stephen King yang biasanya menulis novel dalam ratusan halaman menerbitkan Riding the Bullet yang hanya dalam 67 halaman (cyber), dengan file 0,3 Mb, yang dijual seharga $ 2.50.
Baca juga: Mengenal Teks Berita, Ciri-ciri, Jenis, dan Contoh Penulisannya
Untuk penutup, kelebihan menjadi penulis cerita cyber adalah adanya ruang apresiasi secara online, misal melalui surel atau chat. Kita bisa saling langsung berargumen, berdiskusi, adu pendapat dengan para komentator karya kita. Kecepatan tertinggi adalah tipikal khas saat ini. Siapa yang tidak cepat, akan tertinggal.
