HarianBernas.com – Hampir semua benda yang diberi gangguan seperti dipukul, dipetik, diketut, ditiup, dan lain-lain dapat menyebabkan benda-benda tersebut bergetar. Sebagai contoh, ketika kita memetik gitar, maka senar gitar tersebut akan bergetar, dan ketika kita meniup bagian atas botol, maka udara di dalamnya akan bergetar.
Benda-benda umumnya bergetar pada frekuensi-frekuensi tertentu. Frekuensi getaran benda tersebut dikenal dengan sebutan frekuensi alamiah benda. Semua benda memiliki frekuensi alamiah ketika bergetar.
Hal yang menarik berkaitan dengan frekuensi ini adalah ketika dua benda yang saling terhubung mempunyai frekuensi yang sama dan salah satu benda bergetar, maka getarannya akan memengaruhi benda yang kedua untuk bergetar. Peristiwa ini dalam kaca mata ilmu sains (fisika) dikenal dengan konsep resonansi.
Bercermin dari konsep resonansi, pada diri manusia sesungguhnya terus terjadi getaran-getaran yang amat lembut yang mungkin kita tidak sadari. Getaran-getaran di dalam diri ini tidak pernah berhenti, tetapi terus bergetar tiada henti-hentinya. Persoalannya adalah apakah frekuensi getaran yang dipancarkan itu berada pada energi tingkat tinggi (kasih sayang, empati, kejujuran, dan lain sebagainya) atau bergetar pada energi tingkat rendah (dengki, iri, marah, dan lain-lain).
Apabila berada pada getaran energi tingkat tinggi, maka getaran ini juga akan berdampak menggetarkan energi tingkat tinggi juga. Hal sebaliknya juga terjadi, apabila getaran energi di dalam ini adalah getaran energi tingkat rendah, maka energi ini juga akan menggetarkan energi tingkat rendah. Hal ini akan terus berlanjut dan menjadi semakin besar dan semakin besar.
Hasil penelitian menemukan bahwa frekuensi di dalam diri kita, yang dalam hal ini diwakili oleh pikiran kita memiliki gelombang frekuensi tertentu. Alat yang digunakan untuk merekam frekuensi yang dipancarkan oleh otak bernama Elektroensefalogram (EEG).
Gelombang frekunesi otak/pikiran kita dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu gelombang beta besarnya 14-100 Hz, gelombang alpha besarnya 8-13,9 Hz, gelombang theta besarnyan 4-7,9 Hz, dan gelombang delta besarnya 0,1-3,9 Hz.
Frekuensi Gelombang Beta. Frekuensi gelombang ini menunjukkan bahwa orang tersebut berada pada kondisi terjaga. Pada kondisi terjaga ini orang berada pada tingkat kesadaran penuh dan didominasi oleh logika (akal sehat).
Saat seseorang berada pada level gelombang ini, otak kiri sedang aktif digunakan untuk berpikir,konsentrasi, dan sebagainya, sehingga frekuensi gelombangnya meninggi. Gelombang tinggi ini merangsang otak untuk mengeluarkan hormon kortisol dan norefinefrin. Hormon-hormon tersebut merupakan hormon yang memicu terjadinya kecemasan, kekhawatiran, marah, dan stress.
Dengan kata lain, hormon-hormon tersebut memicu getaran energi tingkat rendah. Akibatnya, tentu kita bisa tebak bahwa orang yang sering aktif digelombang ini akan mudah mengundang penyakit, baik fisik maupun psikis.
Frekuensi Gelombang Alfa. Frekuensi gelombang inilah yang menjadi tujuan kita. Orang yang berada pada frekuensi gelombang ini berada pada kondisi rileks, melamun, khusuk, berimajinasi, dan sejenisnya. Kondisi ini sebagai pintu masuk untuk menuju perasaan bawah sadar. Perasaan, di mana tidak bisa berbohong, tapi jujur berasal dari suara hati (hati nurani).
Pada frekuensi ini otak memproduksi hormon serotonin dan endofin. Kedua hormon tersebut bertugas memberikan rasa nyaman, tenang, dan bahagia. Hormon inimembuat imunitas tubuh meningkat, pembuluh darah terbuka lebar, detak jantung menjadi stabil, dan kapasitas indera menjadi meningkat. Akibatnya, tentu kita dapat tebak bahwa dalam kondisi ini diri kita menjadi sehat, baik fisik maupun psikis.
Frekuensi Gelombang Theta. Pancaran frekuensi gelombang ini menunjukkan orang sedang berada kondisi mimpi. Dalam kondisi ini pikiran menjadi sangat kreatif dan inspiratif. Seseorang yang berada pada gelombang frekuensi ini berada dalam kondisi khusyuk yang mendalam, releks yang dalam, ikhlas, pikiran sangat hening, indera keenam (intuisi) muncul. Pada frekuensi ini, otak memproduksi hormon melatonin, catecholamine, dan AVP (arginine-vasopressin).
Frekuensi Gelombang Delta. Frekuensi Gelombang ini merupakan frekuensi gelombang otak terendah. Frekuensi ini menunjukkan kondisi seseorang dalam keadaan tidur pulas tanpa mimpi, tidak sadar, tidak bisa merasakan badan, hampir tidak berpikir sama sekali. Frekuensi gelombang ini, merangsang otak mengeluarkan hormone pertumbuhan (Human Growth Hormone/HGT).
Dapat dimengerti bahwa kenapa orang yang mudah tidur dan tidurnya berlebihan bisa menjadi gemuk. Hal yang menarik, dari kondisi pada gelombang frekuensi ini adalah apabila orang tidur pada kondisi delta yang stabil, kualitas tidurnya tinggi, dengan catatan tidak tidur berlebihan. Meski hanya beberapa menit tidur, ia akan bangun dengan tubuh yang segar dan bugar.
Menyimak hasil penelitian di atas, dapat kita simpulkan bahwa frekuensi gelombang dapat kita ubah sesuai frekuensi gelombang yang kita inginkan. Bagaimana caranya? Cara yang paling efektif digunakan sampai saat ini adalah dengan cara melakukan meditasi dan yoga.
Melalui teknik meditasi dan yoga, frekuensi gelombang kita bisa berada pada kondisi alpha ataupun theta. Dengan demikian, getaran energi yang dipancarkan bisa berada pada getaran tingkat tinggi. Alhasil, kenyamanan, kebahagiaan, dan kedamaian bisa dirasakan.
I Gede Astawan @ Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
Email: astawan@undiksha.ac.id
