HarianBernas.com – Berbagai teori telah memaparkan bahwa sains memiliki value, di samping mengandung pengetahuan (produk) dan proses. Di sekolah-sekolah sering penekanan sains lebih pada aspek pengetahuan dan sedikit proses. Sedangkan aspek value (nilai) jarang disentuh.
Padahal, penanaman aspek nilai yang terkandung di dalam sains sangat penting. Hal ini dimaksudkan agar seseorang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi kurang secara emosional dan spiritual. Kondisi semacam ini sangat berbahaya bagi kehidupan.
Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Sains dapat membekali ketiga kecerdasan tersebut. Sebagaimana diketahui sains merupakan ilmu yang mempelajari berbagai gejala alam yang ada di sekitar kita. Dengan mempelajari gejala-gejala alam yang ada di sekitar tersebut, kita dapat mengambil hikmah (makna) dalam konteks kehidupan.
Salah satu gejala alam yang dipelajari sejak bangku sekolah dasar adalah konsep kalor. Bahasa sehari-hari menyebutnya dengan sebutan panas. Kalor (panas) merupakan salah satu bentuk energi. Energi yang terdapat dalam konsep kalor adalah energi kalor atau energi panas. Energi tersebut secara alamiah mengalir dari suhu benda yang lebih tinggi ke suhu benda yang lebih rendah.
Fenomena di atas, memberikan petunjuk bahwa kita sebagai manusia juga bisa menyerap energi yang lebih besar, yaitu energi semesta (Energi Ketuhanan). Bagaimana caranya? Agar dapat menyerap energi semesta, maka syaratnya adalah menurunkan suhu (dibaca: ego) yang ada di dalam diri kita. Dengan menurunkan ego, tekun mendekatkan diri ke sumber energi semesta dan selalu tunduk dihadapan Sang Parama Wisesa, niscaya energi semesta bisa mengalir di dalam diri.
Sebaliknya, apabila ego kita tinggi, maka energi yang ada dalam diri kita akan lepas ke semesta. Hal ini menyebabkan kita cepat lelah (dibaca: sakit mental). Kondisi semacam ini ditandai mudah stres, mudah tersinggung, mudah marah, dan sejenisnya.
Ada hal menarik lainnya yang bisa kita simak dari konsep kalor. Di dalam konsep kalor ada disebut dengan azas black. Disebut dengan azas black, karena hal ini dimaksudkan untuk menghormati penemunya yaitu Mr. Black. Menurut azas black, jumlah kalor (energi) yang diterima sama dengan jumlah kalor (energi) yang dilepas. Dalam sebuah persamaan ditulis Qt = Ql. Qt adalah kalor yang diterima, dan Ql adalah kalor yang dilepas.
Azas Black di atas memberikan petunjuk bahwa kalau kita ingin menerima sesuatu dari semesta maka kita harus memberi sesuatu ke semesta. Jumlah yang kita berikan akan selalu berbalik kita terima dalam jumlah yang sama.
Sehubungan dengan hal itu, tampaknya perlu kita renungkan ke dalam diri kita, apa yang sudah pernah kita berikan kepada orang-orang di sekeliling kita, apa yang sudah pernah kita berikan kepada kehidupan ini, dan apa-apa yang pernah kita berika kepada orang-orang yang kurang beruntung?
Jangan-jangan kita hanya bisa meminta dan meminta tanpa pernah mau berpikir untuk memberi dan memberi. Jika kita hanya terus meminta dan meminta dan tidak pernah memberi dan memberi, maka keseimbangan tidak akan terjadi. Pada suatu titik, maka seseorang yang hanya mengambil dan mengambil dari semesta dan tidak pernah memberi dan memberi maka akan mengalami krisis (miskin) rohani.
Hal sebaliknya juga terjadi, apabila kita tekun memberi dan memberi ke semesta, maka tanpa diminta pun alam pasti akan membalas kebaikan yang kita tanam. Semakin banyak memberi dan memberi, semakin kaya rohani diri kita. Itulah hukum alam, itulah hukum sebab akibat, dan itulah hukum karma.
I Gede Astawan @Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
Email: astawan@undiksha.ac.id
