HarianBernas.com – Kata Quantum banyak menjadi perbincangan orang. Banyak orang bertanya apa arti kata kuantum tersebut, yang kini menjadi begitu populer. Istilah kuantum semula terdapat dalam konsep sains (fisika). Ilmu modern menyebutnya fisika/mekanika kuantum.
Pertama kali diperkenalkan oleh Max Planck (1858-1947), seorang fisikawan berkebangsaan Jerman. Munculnya istilah kuantum sebagai suatu konsep, berawal dari kegagalan ilmu fisika klasik dalam menjelaskan berbagai fenomena alam, khususnya berkaitan dengan radiasi benda hitam.
Benda hitam yang dimaksudkan adalah sebuah benda yang mampu menyerap semua cahaya yang sampai ke permukaannya. Jika benda itu berpijar pada suhu tertentu, maka akan memancarkan intensitas radiasi paling besar dari benda-benda lain pada suhu yang sama.
Singkatnya, ilmu fisika klasik tidak mampu menjelaskan mengapa terjadi perbedaan antara teori dan hasil eksperimen yang dilakukan terkait dengan hubungan intensitas radiasi benda hitam dengan panjang gelombang yang dimilikinya.
Kebuntuan fisika klasik inilah, berhasil dipecahkan melalui teori fisika kuantum (fisika modern). Perbedaan mendasar berikutnya adalah fisika klasik hanya mampu menjelaskan konsep-konsep yang berkaitan benda yang berukuran besar (makrokospis), sedangkan fisika kuantum mampu menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan benda-benda sangat kecil yang tidak tampak dengan menggunakan mata telanjang (mikrokospis).
Kehadiran fisika kuantum tentu tidak serta merta menggeser fisika klasik. Kedua teori tersebut tetap masih dijadikan acuan sampai saat ini, tetapi pada porsi yang berbeda. Singkatnya, fisika klasik yang sering disebut dengan Newtonian sangat efektif menjelaskan benda-benda yang berukuran ?relatif besar? atau dapat dilihat mata telanjang.
Sedangkan fisika kuantum dimaksudkan untuk mengetahui lebih dalam pada daerah-daerah yang sangat kecil yang berada di wilayah sub atomik yang tidak bisa di lihat dengan menggunakan ?kaca mata newton?.
Berdasarkan teori kuantum diketahui bahwa atom-atom logam, berperilaku sebagai osilator gelombang elektromagnetik yang bergetar dan memancarkan energi secara diskontinu (diskrit) dalam jumlah (paket) tertentu yang disebut kuanta. Kuanta bentuk tunggal dari kuantum. Jadi, kuantum tidak lain adalah pancaran energi yang bersifat diskrit dalam jumlah tertentu.
Dengan mengambil persamaan Einstein tentang energi, yakni E = m.c2, E adalah energi (baca: potensi dalam diri manusia), m adalah materi (baca: fisik manusia) dan c adalah suatu konstanta (baca: pelipat ganda) yang besarnya 3 x 108 (m/s), maka setiap diri manusia memiliki suatu potensi dalam diri untuk dilipatgandakan menjadi suatu energi yang dahsyat (baca: kekuatan) untuk meraih sesuatu yang diinginkannya.
Untuk itu, diperlukan suatu keyakinan untuk ?mengkuantumkan? diri (baca: membangkitkan) potensi yang ada dalam diri.
Teori kuantum telah membuktikan bahwa pada tataran mikrokospis, semua materi adalah energi. Tubuh kita yang secara kasat mata kita lihat sebagai benda padat, sesungguhnya tidaklah padat, melainkan ?ruang hampa? yang memiliki getaran energi yang tidak henti-hentinya.
Lebih dalam lagi, fisika kuantum telah membuktikan bahwa pergeseran energi bisa terjadi secara besar-besaran dalam waktu singkat. Para ilmuan fisika kuantum telah menemukan bahwa segala sesuatu terdiri dari untaian energi yang bergetar, di mana kehendak dan kesadaran manusia memiliki pengaruh.
Kondisi yang demikian dikenal dengan ?ketidakpastian Henseiberg?. Artinya, perilaku suatu partikel tergantung dari siapa yang mengamatinya.
Fisika kuantum mengajarkan kepada kita bahwa apa yang kita lakukan terhadap kesadaran dan energi kitalah yang menentukan semua hasil yang kita alami. ?Hidup adalah ketidakpastian?. Hal inilah mengindikansikan bahwa kita hidup dalam suatu keadaan di antara berbagai kemungkinan yang tak ada hentinya.
Dunia adalah selalu berubah, tidak ada yang kekal, kecuali perubahan itu sendiri. Pergeseran kecil bisa menyebabkan suatu perubahan yang berjangkauan dekat dan jauh dengan realitas.
Dalam dunia mikrokospis (unsur kecil), mungkin kita tidak bisa melihat, seperti halnya atom. Namun, kita bisa merasakan efek dari ?bom atom?. Hal yang sama juga terjadi dalam diri kita, getaran yang terdapat dalam tubuh kita juga memiliki efek yang dramatis.
Hal ini cukup sebagai alasan mengapa, emosi, pikiran, dan sikap negatif lainnya berpengaruh terhadap ?takdir? kita. Artinya, tanpa kita sadari kita cenderung memfokuskan energi kita pada kesulitan-kesulitan, dan persoalan hidup lainnya.
Sesuai dengan hukum tarik menarik, bahwa ketika kita memfokuskan energi kita pada hal-hal negatif, maka akan menarik lebih besar lagi hal-hal negatif ke diri kita. Sebagai contoh, ketika kita ngobrol dan sedang membicarakan orang lain yang tidak ikut dalam obrolan tersebut.
Jika kita membicarakan kejelekan orang lain, maka semakin banyak kejelekan-kejelan yang bisa kita temukan dari orang tersebut. Dan energi ini akan terus mempengaruhi situasi dan kondisi yang berhubungan dengan kejelekan. Kenapa demikian? karena tidak menutup kemungkinan orang yang kita ajak ngobrol akan berbicara lagi ke orang yang lebih banyak lagi.
Cepat atau lambat, apa yang kita bicarakan akan kesampaian pada orang yang kita jelek-jelekkan tersebut. Tentu hasilnya sudah dapat ditebak. Orang yang kita jelek-jelekkan tersebut akan berbalik ?menyerang? dan menjelek-jelekkan kita. Maka terciptalah energi-energi negatif yang semakin besar.
Penemuan fisika kuantum semakin mendekatkan antara dunia sains dan dunia spiritual. Semakin diketahui adanya sinergi antara ilmu pengetahuan (sains) dan agama. Hal ini juga menguatkan pernyataan Einstein bahwa ?ilmu tanpa agama akan buta dan agama tanpa ilmu akan lumpuh.?
I Gede Astawan @ Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
Email: astawan@undiksha.ac.id
