YOGYAKARTA, HarianBernas.com ? Ratusan warga Yogyakarta memperebutkan gunungan hasil bumi pada Grebeg Syawal Tahun Jimawal 1949, Kamis (7/7/16). Lima gunungan yang dibawa dan diarak oleh abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Masjid Gedhe Kauman dalam waktu sekejap sudah ludes diperebutkan warga.
Tujuh gunungan berisi aneka hasil bumi diarak ratusan prajurit dari Siti Hinggil Keraton Yogyakarta. Lima gunungan dibawa ke Masjid Gedhe, sedangkan dua gunungan dihantar ke Kantor Kepatihan dan Puro Pakualaman.
Tak lama didoakan oleh Penghulu Keraton Ngayogyakarta di serambi Masjid Gedhe, ratusan warga langsung menyerbu gunungan. Seorang warga Bandung, Sugiarti (67) mengaku sangat antusias dengan isi gunungan yang sudah didoakan itu. Ia mengaku sudah lima tahun tidak dapat berjumpa dan mengikuti upacara Grebeg Syawal.
Ia mendapat dua batang dari bamboo dan segumpal ketan merah. Ia sangat senang dan meyakini dapat membawa keberkahan hidup.
“Akan saya bawa pulang ke Bandung, untuk keberkahan,” kata Sugiarti bersama dua cucunya, Kamis (7/7/16).
Sedangkan Agung warga Patuk, mengaku berhasil mendapatkan empat lonjor kacang panjang. Baginya dapat dipercaya sebagai ?tolak bala? atau penolak mala petaka. Kegiatan ini tidak hanya melestarikan kebudayaan melainkan juga menjadi daya tarik wisatawan.
Tepas Keprajuritan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Enggar Pikantoko menjelaskan Grebeg Syawal merupakan perayaan telah selesainya bulan Ramadhan. Ia menjelaskan lima gunungan itu berisi hasil bumi yakni, Gunungan Wadon, Lanang, Bromo, Gepak, dan Pawuhan.
Lima gunungan ini adalah simbol dari sedekah raja kepada rakyatnya dan sebagai wujud syukur sang raja kepada Allah.
