HarianBernas.com – Anda pernah mendengar nama Pulau Tayando? Pulau ini menjadi bagian dari Kota Tual, Provinsi Maluku, terletak di kepulauan Tayando Tam. Kepulauan Tayando Tam berada di antara Laut Banda dengan Laut Arafuru. Beberapa minggu lalu, saya berkesempatan mengunjungi pulau ini, berkaitan dengan perencanaan pelabuhan di pulau tersebut.
Kecamatan Tayando Tam, merupakan salah satu kecamatan di Kota Tual, dari 5 kecamatan yang ada. Tual dahulu kala, pada masa kolonial Belanda, merupakan sebuah ibu kota afdeling. Berada di bawah koordinasi Tual, daerah seperti Kepulaun Kei, Kepulauan Aru, Kepulauan Barat Daya hingga ke Digul (Papua). Jauh dari masa Belanda, Tual sudah terkenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah di abad ke-14 hingga15. Tual pun tercantum di dalam Kitab Sutasoma dan Kitab Negara Kertagama.
Pada tahun 1952, Tual menjadi ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara (PP no 35 tahun 1952). Tahun 2000, Kabupaten Maluku Tenggara dimekarkan menjadi Kabupaten Maluku Tenggara serta Kabupaten Maluku Tenggara Barat (ibukota di Saumlaki). Kemudian pada tahun 2007, dibentuk Kota Tual berdasarkan UU no 31 tahun 2007. Ibukota Kabupaten Maluku Tenggara lantas pindah dari Tual (P. Dullah) ke Langgur, (P. Kei Kecil). Kota Tual terdiri dari 66 (enam puluh enam) pulau. 98% wilayah kabupaten ini adalah perairan, hanya seluas 352km2 (2%) yang berupa daratan.
Saat ini Kota Tual terdiri dari 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Pulau Kur, Kecamatan Kur Selatan, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kecamatan Pulau Dullah Selatan serta Kecamatan Tayando Tam. Kecamatan Tayando Tam menempati areal daratan seluas 69 km2. Tayando Tam merupakan kecamatan kepulauan. Kecamatan ini terdiri dari 7 pulau. 4 pulau di antaranya, berpenghuni, Pulau Tayando, Pulau Heniar, Pulau Walir serta Pulau Tam. Sementara 3 lainnya, P. Ree, P. Nusren serta P. Nunyel, tidak berpenghuni.
Pulau Tayando terdiri dari 3 desa, Desa Tayando Langgiar, Desa Tayando Ohoiel serta Desa Tayando Yamru. Penduduk di Pulau Tayando, sekitar 2300 jiwa, dari total 6100 jiwa penduduk di Kecamatan Tayando Tam. Kota Tual itu sendiri, berpenduduk sekitar 65.800 jiwa. Dengan penduduk sebanyak itu, kepadatan penduduk di Pulau Tayando hanya 85 jiwa per km2. Bandingkan dengan Jakarta yang bisa ditempati ± 15.000 jiwa dalam 1 km2.
Tayando berjarak ± 25 mil laut dari Tual. Untuk mencapai Tayando, tidak banyak pilihan yang tersedia. Masyarakat biasanya menggunakan kapal feri yang rutin berlayar sekali dalam seminggu. Dengan kapal feri, jarak tersebut dapat ditempuh dalam waktu 3-4 jam. Kadang ada pula kapal kayu berukuran sekitar 10GT yang berlayar dari Tual ke Tayando, namun ini tidak rutin.
Pelayaran dengan kapal feri memang menjadi andalan untuk penduduk di Pulau Tayando, karena tarif yang murah. Masyarakat hanya perlu membayar 10rb untuk kelas ekonomi dan 40rb untuk kelas VIP. Ini jelas murah, dibandingkan jika harus menyewa kapal yang dapat mencapai sekitar 3-4 juta, sekali jalan.
Di Pulau Tayando, fasilitas pendidikan hanya sampai setingkat SMP. Tidak ada SMA/SMK atau pun kampus di pulau ini. Untuk mendapatkan pendidikan lanjutan selepas SMP, para pelajar harus merantau ke ibu kota kecamatan di Pulau Heniar atau bahkan ke Tual. Pulau Heniar terletak sekitar 3 mil di sebelah timur Tayando.
Untuk sarana kesehatan, di Tayado hanya ada 2 puskesmas pembantu, posyandu serta polindes. Tidak ada puskesmas atau rumah sakit di pulau ini. Demkian pula, tidak ada dokter yang bertugas di pulau ini. Hanya ada perawat dan bidan yang melayani kebutuhan kesehatan masyarakat.
Di sektor pertanian, P. Toyando menghasilkan beberapa komoditas palawija, seperti jagung, ketela pohon, ketela rambat serta umbi-umbian lainnya. Tidak ada padi di pulau ini. Hasil pertanian tersebut dikonsumsi oleh masyarakat setempat, tidak dikirim ke luar pulau.
Kecamatan Tayando Tam, terkenal akan hasil perikanan laut. Sub sektor perikanan tangkap, dapat menghasilkan sekitar 3-ribuan ton ikan setahun. Pulau Tayando pun terkenal sebagai penghasil rumput laut. Rumput laut yang dihasilkan, sejauh ini menjadi mata pencaharian utama bagi penduduk di pulau ini.
Belum ada pelayanan dari PLN di pulau ini. Kebutuhan akan energi listrik dipenuhi dari genset milik pribadi masyarakat. Pada siang hari, praktis tidak ada energi listrik yang tersedia. Semua genset diprioritasikan untuk mendukung penerangan di malam hari. Untuk urusan bahan bakar pun, belum ada agen resmi dari Pertamina. Bahan bakar yang ada di pulau ini dipasok oleh pedagang eceran.
Kehidupan di Pulau Tayando masih serba terbatas. Perekonomian belum berkembang. Salah satu faktor utama penyebabnya adalah Pulau Tayando, belum memiliki pelabuhan. Arus keluar masuk barang, masih dilakukan dengan sistem transhipment (alih muat) dari sampan ke kapal feri atau ke kapal kayu. Semua barang, tak terkecuali. Baik itu hasil rumput laut, hasil perikanan tangkap yang hendak di bawa ke Tual. Ataupun bahan kebutuhan sehari-hari yang datang dari Tual, seperti sembako, bahan bakar minyak, alat-alat rumah tangga dan sebagainya.
Pola alih muat ini tidak menguntungkan bagi masyarakat, karena ada biaya ekstra (sewa sampan) yang harus dikeluarkan. Biaya tersebut dapat dihemat ketika ada sebuah pelabuhan di pulau ini.
Selain faktor biaya, faktor keselamatan pun menjadi perhatian. Proses mengalihkan penumpang dan barang, dari kapal feri ke sampan, atau sebaliknya, memiliki risiko tinggi. Sampan dapat terbalik ketika orang salah berpijak saat berpindah dari feri; demikian pun sebaliknya. Juga ada risiko terpeleset dan jatuh ke laut pada proses perpindahan ini. Hal ini pun terjadi pada saat memindahkan barang-barang dari kapal feri ke sampan, atau sebaliknya.
Pola transhipment ini seolah menjadi pembatas pergerakan ekonomi di pulau kecil ini. Diharapkan pelabuhan dapat segera dibangun oleh pemerintah di Pulau Tayando. Sehingga perekonomian dapat berkembang dengan cepat. Keberadaan pelabuhan dapat melancarkan arus barang dan penumpang, keluar masuk pulau ini. Adanya pelabuhan pun dapat meningkatkan daya saing komoditas yang dihasilkan Tayando. Di sisi lain, keselamatan penumpang dan barang dapat dijaga dengan adanya pelabuhan di Tayando.
Salam Juara,
Permadhi Okke
Ahli Pelabuhan
