HarianBernas.com — Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan dari tingkat sekolah dasar, menengah, bahkan ada sampai perguruan tinggi. Matematika sering disebut sebagai ilmu dasar, karena matematika juga digunakan dalam berbagai bidang ilmu lainnya. Salah satu pelajaran yang pasti diberikan dalam matematika adalah operasi hitung. Operasi hitung yang sering digunakan adalah penjumlahan (+), pengurangan (-), perkalian (x), dan pembagian (:).
Ada yang menarik dari operasi perkalian. Konsep perkalian mengajarkan bahwa jika positif (+) dikali positif (+), maka memberikan hasil positif (+). Jika positif (+) dikali negatif (-) dan negatif (-) dikali positif (+), maka memberikan hasil negatif (-). Jika negatif (-) dikalikan dengan negatif (-), maka memberikan hasil positif (+). Untuk mengingatkan kembali perhatikan operasi berikut.
+ x + = +
+ x – = –
– x + = –
– x – = +
Pernahkah kita berpikir, mengapa demikian? Ternyata ada makna yang bisa kita petik dari pembelajaran matematika sederhana di atas sebagai pedoman dalam kehidupan ini. Kita asumsikan + = benar, dan – = salah. Dengan demikian bisa kita tarik 3 (tiga) makna dari operasi di atas, yaitu:
1. Menyatakan benar (+) terhadap sesuatu yang benar (+) adalah tindakan yang benar (+).
2. Menyatakan benar (+) terhadap sesuatu yang salah (-) atau menyatakan salah (-) terhadap sesuatu yang benar (+) adalah tindakan yang salah (-).
3. Menyatakan salah (-) terhadap sesuatu yang salah (-) adalah tindakan yang benar (+).
Kita diharapkan mengikuti aturan operasi tersebut, sehingga kehidupan ini menjadi lebih baik. Tetapi, masih banyak di antara kita, mengabaikan aturan seperti operasi hitung tersebut dengan berbagai alasan. Sering dijumpai orang menyatakan benar atau membenarkan terhadap sesuatu yang jelas-jelas salah. Sebaliknya, menyatakan salah (menyalahkan) terhadap sesuatu yang jelas-jelas benar.
Bagaimana cara mengetahui bahwa yang benar itu adalah benar dan yang salah adalah salah? Kearifan lokal Bali mengajarkan ada tiga cara untuk mendapatkan kebenaran yang disebut Tri Pramana.
Tri Pramana terdiri atas Pratyaksa Pramana, Anumana Pramana, dan Sabda Pramana. Pratyaksa Pramana adalah kebenaran yang didapat karena mengamati atau mengalami langsung.
Anumana Pramana adalah kebenaran yang didapat karena pikiran kritis terhadap berbagai kejadian. Kebenaran seperti ini bisa juga didapat dengan analogi melalui analisis kritis. Sabda Pramana adalah kebenaran yang diperoleh karena mendengar atau membaca dari sumber yang dipercaya.
Ketiga cara tersebut hendaknya kita gunakan untuk menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Jika kebenaran sudah diketahui dengan cara di atas, maka selanjutnya dibutuhkan keberanian untuk menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.
Sering kita tidak punya cukup keberanian untuk mengatakan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah dengan alasan takut menerima resikonya. Di sinilah diperlukan kebijaksanaan.
Kita tidak harus menjadi Yudistira, tetapi jadilah seperti Arjuna. Yudistira bertindak melakukan perbuatan baik atas nama dirinya sendiri, sedangkan Arjuna bertindak atas kehendak Tuhan. Arjuna menyerahkan segala perbuatannya atas nama Tuhan. Arjuna menjadikan dirinya sebagai alat bagi Tuhan untuk menegakkan dharma (kebenaran).
Risiiko apapun akan diterima, termasuk mengorbankan dirinya sendiri demi menegakkan kebenaran. Artinya, Arjuna berani mengambil resiko untuk mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.
Jadi, dapat dirangkum bahwa berada dijalan dharma (kebenaran) tidak harus lemah. Untuk menegakkan kebenaran memang dibutuhkan keberanian. Kebenaran tidak akan menang kalau tidak dilandasi dengan keberanian. Keberanian untuk bertindak dan keberanian untuk mengambil resiko.
I Gede Astawan @ Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
Email: astawan@undiksha.ac.id
