HarianBernas.com – Mendengar nama sutera, maka yang kita bayangkan adalah kain yang terkenal akan permukaannya yang lembut dan harganya yang mahal. Sutera sendiri berasal dari benang yang dibuat oleh ulat sutera, fase larva dari ngengat sutera (Bombyx mori).
Tujuan ulat sutera menghasilkan benang sendiri adalah untuk membangun cangkang kepompong supaya sang ulat bisa bermetamorfosis ke fase hidup berikutnya. Sesudah dua minggu, kepompong tersebut akan pecah dan dari dalamnya keluarlah ngengat sutera. Uniknya, kendati ngengat sutera memiliki 2 pasang sayap, serangga berwarna putih ini ternyata sama sekali tidak bisa terbang.
Tidak banyak orang yang tahu kalau proses pengambilan sutera dari kepompong terbilang ?kejam? karena kepompong atau kokon akan direbus hidup-hidup terlebih dahulu sebelum benangnya diekstrak. Tujuan perebusan itu sendiri adalah untuk membunuh hewan yang di dalam kokon.
Karena jika kokonnya pecah begitu ngengat di dalamnya sudah memasuki fase siklus hidup terakhirnya, kualitas benang sutera dari sisa-sisa kokon akan mengalami penurunan signifikan sehingga harga jualnya juga ikut menurun.
Proses pengambilan benang sutera yang mengorbankan nyawa hewannya lantas membuat sejumlah golongan masyarakat belakangan menentang kegiatan produksi sutera dengan cara demikian.
Di Amerika Serikat, organisasi pembela hak-hak hewan yang bernama PETA menganjurkan orang-orang supaya berhenti membeli produk berbahan sutera dan kulit hewan. Sementara di India, Kusuma Rajaiah meluncurkan ?sutera Ahimsa? yang proses pembuatannya tidak melalui tahap membunuh ngengat di dalam kokon.
